dengarinfo.com - Portal Berita Akurat & Terpercaya

Data Korban Perang Iran Dipersoalkan, Hegseth Bantah Angka Kematian Militer AS Lebih Tinggi

Oleh: riska
20 September 2026
16 kali dibaca

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth membantah laporan yang menyebut jumlah personel militer Amerika Serikat yang meninggal selama perang dengan Iran lebih tinggi daripada angka yang tercantum dalam data publik Pentagon.

dengarinfo - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth membantah laporan yang menyebut jumlah personel militer Amerika Serikat yang meninggal selama perang dengan Iran lebih tinggi daripada angka yang tercantum dalam data publik Pentagon. Bantahan tersebut disampaikan Hegseth melalui akun media sosial X setelah muncul laporan pada Jumat, 18 September 2026, yang mengutip sejumlah pejabat Amerika Serikat mengenai adanya perbedaan antara catatan internal dan data korban yang tersedia untuk publik.

Laporan tersebut menyebut sedikitnya 22 personel militer Amerika Serikat telah meninggal sejak perang dengan Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Angka itu lebih banyak empat orang dibandingkan data yang tersedia dalam sistem pencatatan korban militer Pentagon yang pada saat laporan diterbitkan mencantumkan 18 personel meninggal dunia. Informasi mengenai 22 korban tersebut berasal dari lima pejabat Amerika Serikat yang mengetahui data internal pencatatan korban Departemen Pertahanan dan berbicara tanpa disebutkan identitasnya.

Seorang pejabat lainnya memberikan angka berbeda dengan menyebut sebanyak 23 personel militer Amerika Serikat telah meninggal sejak dimulainya perang. Pejabat tersebut menjelaskan bahwa tidak seluruh kematian yang belum tercantum dalam data publik berkaitan langsung dengan pertempuran melawan Iran. Sebagian di antaranya disebut melibatkan personel Amerika Serikat yang sedang ditempatkan di kawasan Timur Tengah ketika operasi militer dan serangan berlangsung. Identitas personel, lokasi kematian, waktu kejadian serta penyebab kematian dari korban tambahan tersebut belum dijelaskan secara terbuka.

Data yang dipublikasikan Pentagon pada saat laporan tersebut muncul mencatat 18 kematian personel militer Amerika Serikat sejak konflik dimulai. Sebanyak 14 kematian tercatat dalam operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran, sedangkan empat lainnya dicatat dalam kategori operasi luar negeri setelah berlangsungnya gencatan senjata pada Juli 2026 yang kemudian berakhir dan diikuti kembali oleh serangan antara kedua pihak.

Laporan tersebut juga menyebut tiga kontraktor Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah telah meninggal sejak operasi tempur dimulai. Informasi mengenai kontraktor itu disampaikan oleh seorang pejabat yang mengetahui pencatatan korban. Sementara itu, data publik Pentagon menunjukkan lebih dari 820 personel militer Amerika Serikat mengalami luka dalam aksi tempur sejak konflik dengan Iran berlangsung, termasuk personel yang mengalami cedera otak traumatis akibat serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Menanggapi laporan mengenai perbedaan jumlah korban tersebut, Hegseth secara terbuka menolaknya melalui media sosial. Ia menyebut laporan itu sebagai kebohongan dan menyatakan informasi yang disampaikan mengenai jumlah korban militer Amerika Serikat tidak benar. Bantahan Hegseth disampaikan setelah laporan mengenai sedikitnya 22 korban meninggal dipublikasikan dan kemudian menjadi perhatian terkait pencatatan korban perang oleh pemerintah Amerika Serikat.

Pentagon sebelumnya tidak memberikan penjelasan mengenai perbedaan antara angka dalam sistem publik dengan jumlah yang disebut oleh para pejabat tersebut. Sistem pencatatan korban pertahanan Amerika Serikat digunakan untuk memuat kematian dan korban luka personel dalam berbagai operasi militer. Setiap kematian anggota militer juga melalui pemeriksaan untuk menentukan apakah kematian terjadi ketika personel tersebut sedang menjalankan tugas resmi. Hasil pemeriksaan tersebut dapat berkaitan dengan status kematian serta hak yang diterima keluarga personel yang meninggal.

Dalam data lain yang berkaitan dengan perang tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat memperkirakan biaya operasi militer menghadapi Iran telah mencapai sekitar 43,6 miliar dolar AS hingga awal September 2026. Sekitar 28 miliar dolar AS dari jumlah itu berkaitan dengan penggunaan amunisi selama konflik. Perhitungan tersebut belum memasukkan kerusakan yang dialami sejumlah pangkalan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah akibat serangan Iran.

Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Sejak saat itu, operasi militer berlangsung di sejumlah wilayah dan diikuti serangan Iran terhadap fasilitas serta pangkalan Amerika Serikat di Timur Tengah. Konflik tersebut juga menyebabkan penggunaan dalam jumlah besar berbagai persenjataan pertahanan dan serangan, termasuk sistem pencegat rudal yang digunakan untuk menghadapi rudal balistik dan pesawat tanpa awak.

Selain 18 kematian yang telah tercatat dalam sistem publik pada 18 September 2026, terdapat pula dua personel Amerika Serikat yang meninggal di Timur Tengah saat menjalankan misi yang menurut Pentagon tidak berkaitan langsung dengan perang Iran. Salah seorang personel meninggal dalam kecelakaan latihan di Irbil, Irak, pada 31 Mei 2026, sedangkan seorang personel lainnya meninggal setelah mengalami keadaan darurat medis di Kuwait pada 6 Maret 2026. Belum terdapat keterangan yang memastikan apakah kematian kedua personel tersebut menjadi bagian dari selisih angka yang dipersoalkan.

Perbedaan pencatatan tersebut hingga 20 September 2026 belum menghasilkan angka baru yang diumumkan secara resmi oleh Pentagon untuk menggantikan data publik yang sebelumnya mencatat 18 kematian. Angka sedikitnya 22 hingga 23 korban berasal dari keterangan sejumlah pejabat Amerika Serikat yang tidak disebutkan identitasnya, sedangkan Hegseth membantah laporan tersebut. Dengan demikian, terdapat dua keterangan berbeda mengenai jumlah personel militer Amerika Serikat yang meninggal selama periode perang dengan Iran, sementara rincian mengenai korban tambahan yang disebut dalam laporan belum diumumkan secara terbuka.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar Anda