dengarinfo – Pergantian kepemimpinan di Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi perhatian berbagai kalangan, termasuk para pakar kesehatan. Mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Asia Tenggara, Prof. Tjandra Yoga Aditama, menyampaikan tiga pesan penting kepada Kepala BGN yang baru, Sudaryono, agar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin efektif, aman, dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
Menurut Prof. Tjandra, pergantian pimpinan seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola program yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai MBG merupakan program strategis yang tidak hanya bertujuan meningkatkan status gizi anak, tetapi juga menjadi investasi besar dalam pembangunan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dalam beberapa pekan terakhir, pemerintah diketahui telah menyiapkan sejumlah pengembangan program MBG. Selain memperluas jumlah penerima manfaat, pemerintah juga berencana menjangkau kelompok ibu hamil dan ibu menyusui, memperluas pelaksanaan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta membuka peluang pemanfaatan dapur sekolah yang memenuhi standar sebagai bagian dari jaringan penyedia makanan bergizi. Menurut Prof. Tjandra, seluruh rencana tersebut perlu diwujudkan secara bertahap dengan tata kelola yang baik.
Pesan pertama yang disampaikan Prof. Tjandra adalah menjadikan keamanan pangan sebagai prioritas utama dalam setiap tahapan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Menurutnya, makanan yang bergizi tidak akan memberikan manfaat apabila tidak memenuhi standar keamanan pangan.
Ia mengingatkan bahwa laporan WHO pada Juni 2026 menunjukkan makanan yang tidak aman menyebabkan sekitar 866 juta kasus penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia. Karena itu, seluruh proses penyediaan makanan harus memastikan aspek kebersihan, kualitas bahan baku, hingga cara pengolahan benar-benar memenuhi standar kesehatan.
Peringatan tersebut juga disampaikan setelah muncul laporan dugaan keracunan makanan dalam pelaksanaan MBG di Kabupaten Garut yang kini masih ditangani oleh pihak berwenang. Menurut Prof. Tjandra, kejadian seperti itu harus dijadikan bahan evaluasi agar tidak terulang di daerah lain.
Pesan kedua berkaitan dengan pentingnya pengawasan terhadap seluruh rantai penyediaan pangan atau konsep from farm to plate. Menurut Prof. Tjandra, pengawasan tidak cukup dilakukan ketika makanan sudah berada di dapur atau sekolah.
Ia menjelaskan bahwa kualitas makanan harus dijaga sejak proses produksi di sektor pertanian dan peternakan, pengangkutan, penyimpanan di gudang, proses memasak di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), distribusi menuju sekolah, cara penyajian kepada siswa, hingga pengelolaan limbah setelah makanan dikonsumsi.
Menurutnya, apabila salah satu mata rantai tersebut mengalami gangguan, kualitas dan keamanan makanan dapat menurun sehingga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi penerima manfaat. Oleh karena itu, koordinasi lintas sektor menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan Program MBG.
Pesan ketiga adalah perlunya monitoring dan evaluasi berbasis ilmiah. Prof. Tjandra menilai program berskala nasional seperti MBG harus memiliki sistem evaluasi yang mampu mengukur manfaatnya secara objektif.
Ia mengusulkan dua pendekatan utama. Pertama, melakukan survei kepuasan kepada para penerima manfaat, termasuk siswa, orang tua, guru, serta pihak-pihak lain yang terlibat dalam pelaksanaan program. Kedua, menyelenggarakan studi kohort atau penelitian jangka panjang untuk mengukur dampak program terhadap status gizi, kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan anak.
Menurutnya, pendekatan ilmiah akan menghasilkan evidence-based public policy, yakni kebijakan publik yang disusun berdasarkan bukti ilmiah, bukan sekadar asumsi atau persepsi. Dengan demikian, setiap perbaikan kebijakan dapat dilakukan berdasarkan hasil evaluasi yang terukur.
Sudaryono resmi dipercaya memimpin Badan Gizi Nasional setelah pergantian pimpinan sebelumnya. Ia kini memikul tanggung jawab besar untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan sesuai target pemerintah, baik dari sisi kualitas layanan, keamanan pangan, maupun efektivitas penggunaan anggaran.
Program MBG sendiri merupakan salah satu program prioritas nasional yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi anak sekolah, menurunkan angka stunting, serta mendukung pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Dengan cakupan penerima manfaat yang terus diperluas, tantangan koordinasi, distribusi, pengawasan, dan pengendalian mutu juga akan semakin kompleks.
Karena itu, tiga pesan yang disampaikan Prof. Tjandra dinilai menjadi pengingat bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari banyaknya makanan yang dibagikan atau jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari keamanan pangan, kualitas layanan, serta dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat.
Ke depan, publik berharap kepemimpinan baru di Badan Gizi Nasional mampu memperkuat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis melalui sistem yang lebih transparan, akuntabel, dan berbasis ilmu pengetahuan. Dengan demikian, program unggulan pemerintah tersebut tidak hanya menjadi bantuan pangan semata, tetapi benar-benar menjadi investasi jangka panjang dalam menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan produktif.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar Anda