dengarinfo.com - Portal Berita Akurat & Terpercaya

Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Kabupaten Tangerang, Episentrum di Tenggara Kota

Oleh: Anwar
21 February 2026
29 kali dibaca

BMKG mencatat parameter gempa ini dengan magnitudo 4,6 pada skala Richter. Lokasi episentrum ditentukan pada koordinat 6,18 derajat Lintang Selatan dan 106,63 derajat Bujur Timur. Kedalaman hiposentrum gempa ini berada pada 10 kilometer di bawah permukaan tanah

Dengarinfo- Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,6 mengguncang Kabupaten Tangerang, Banten, pada Sabtu 21 Februari 2026 malam. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa tersebut terjadi sekitar pukul 19.23 Waktu Indonesia Barat (WIB).

Episentrum gempa berada sekitar 3 kilometer di tenggara Kabupaten Tangerang. Dengan kedalaman hiposentrum yang dangkal, gempa ini dirasakan cukup kuat di wilayah pusat kabupaten dan sekitarnya.

BMKG mencatat parameter gempa ini dengan magnitudo 4,6 pada skala Richter. Lokasi episentrum ditentukan pada koordinat 6,18 derajat Lintang Selatan dan 106,63 derajat Bujur Timur. Kedalaman hiposentrum gempa ini berada pada 10 kilometer di bawah permukaan tanah.

Gempa dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer dikategorikan sebagai gempa dangkal. Gempa dangkal cenderung menimbulkan getaran yang lebih kuat di permukaan dibandingkan dengan gempa berskala sama namun dengan kedalaman lebih dalam.

Kabupaten Tangerang merupakan wilayah yang berada di bagian utara Provinsi Banten. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bekasi. Sebagian besar wilayah Kabupaten Tangerang merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata di bawah 50 meter di atas permukaan laut.

Pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan Kabupaten Tangerang terkonsentrasi di Kecamatan Tigaraksa sebagai ibu kota kabupaten. Wilayah ini juga memiliki pusat-pusat permukiman padat di Kecamatan Cikupa, Cisauk, dan beberapa kecamatan lain yang berbatasan dengan wilayah metropolitan Jakarta.

Gempa berkekuatan magnitudo 4,6 dengan episentrum yang sangat dekat dengan pusat permukiman berpotensi menimbulkan keresahan warga. Getaran gempa dirasakan di berbagai wilayah Kabupaten Tangerang termasuk Kecamatan Tigaraksa, Cikupa, Cisauk, dan sebagian Kecamatan Pagedangan.

BMKG melalui akun resmi media sosial dan website-nya menginformasikan parameter gempa secara real-time. Data gempa ini dihimpun dari jaringan seismograf yang tersebar di berbagai lokasi di Jawa dan Sumatera.

Indonesia secara geologis berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama. Lempeng Indo-Australia bergerak ke arah utara dan menumbuk lempeng Eurasia. Lempeng Pasifik bergerak ke arah barat dan berinteraksi dengan lempeng lainnya di wilayah timur Indonesia.

Pertemuan lempeng-lempeng ini menciptakan zona subduksi yang aktif di sepanjang bagian selatan dan utara kepulauan Indonesia. Aktivitas tektonik di zona subduksi menjadi sumber utama gempa bumi dan letusan gunung berapi di wilayah ini.

Selain aktivitas tektonik, gempa di wilayah Jawa Barat dan Banten juga dapat disebabkan oleh aktivitas sesar lokal. Sesar Baribis yang berada di bagian utara Jawa merupakan salah satu struktur geologi yang berpotensi menimbulkan gempa dengan dampak signifikan.

Sesar Baribis membentang dari arah barat laut menuju tenggara melintasi wilayah Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, dan sebagian wilayah Banten. Sesar ini merupakan sesar naik yang berpotensi menimbulkan gempa dengan magnitudo mencapai 7 hingga 8.

Gempa dengan magnitudo 4,6 umumnya tidak menimbulkan kerusakan struktural yang signifikan pada bangunan yang memenuhi standar konstruksi. Namun getaran dapat terasa nyata dan menimbulkan kepanikan terutama pada warga yang berada di dalam gedung bertingkat.

Skala intensitas gempa menggunakan skala Modified Mercalli Intensity (MMI). Gempa magnitudo 4,6 dengan kedalaman 10 kilometer umumnya menghasilkan intensitas MMI IV hingga V di episentrum. Intensitas MMI IV dirasakan sebagai getaran ringan yang membuat perabotan bergerak, sementara MMI V dirasakan sebagai getaran sedang yang dapat membangunkan orang tidur.

BMKG tidak mengeluarkan peringatan tsunami untuk gempa ini. Gempa dengan magnitudo di bawah 7 dan dengan episentrum di darat umumnya tidak memiliki potensi tsunami kecuali disertai dengan pergerakan vertikal dasar laut yang signifikan.

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Informasi Bencana BMKG menyampaikan informasi gempa kepada instansi terkait termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dinas Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Banten, dan Dinas Kabupaten Tangerang.

Dinas Penanggulangan Bencana Kabupaten Tangerang melakukan pemantauan dan verifikasi dampak gempa di lapangan. Tim diluncurkan untuk memeriksa kondisi infrastruktur vital dan permukiman warga di wilayah yang merasakan getaran paling kuat.

Hingga laporan ini dibuat, belum ada laporan kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat gempa magnitudo 4,6 ini. Kondisi ini dapat berubah seiring dengan proses pendataan yang dilakukan oleh aparat terkait di tingkat kecamatan dan desa.

Warga Kabupaten Tangerang yang merasakan getaran gempa banyak yang keluar dari rumah sebagai bentuk respons terhadap guncangan. Fenomena ini terjadi di berbagai permukiman padat terutama di wilayah yang berdekatan dengan episentrum.

Aktivitas gempa di wilayah Banten dan sekitarnya tercatat dalam sejarah kebencanaan Indonesia. Gempa besar pernah melanda wilayah ini pada tahun 1699, 1834, dan 2018. Gempa 2018 dengan magnitudo 6,0 mengakibatkan kerusakan dan korban jiwa di wilayah Kabupaten Pandeglang dan sekitarnya.

Sistem peringatan dini gempa saat ini masih dalam tahap pengembangan di Indonesia. BMKG telah menginstalasi beberapa unit sistem peringatan dini di wilayah Jawa dan Sumatera. Sistem ini dirancang untuk memberikan peringatan beberapa detik hingga puluhan detik sebelum getaran gempa yang merusak tiba di lokasi tertentu.

Bangunan di wilayah Kabupaten Tangerang umumnya merupakan konstruksi sederhana hingga menengah. Sebagian besar rumah tinggal menggunakan konstruksi batu bata dan beton bertulang. Gedung-gedung komersial dan perkantoran yang lebih tinggi umumnya berkonsentrasi di wilayah yang berbatasan dengan Kota Tangerang.

Standar konstruksi bangunan tahan gempa diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) 1726 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung. SNI ini mengadopsi parameter gempa dengan periode ulang 500 tahun untuk wilayah Jawa dan Sumatera.

Pemerintah Kabupaten Tangerang memiliki dokumen Rencana Penanggulangan Bencana Daerah yang mencakup skenario gempa bumi. Dokumen ini menjadi acuan untuk koordinasi respons dan rehabilitasi pasca bencana di wilayah kabupaten.

Jaringan seismograf BMKG yang mencatat gempa ini terdiri dari berbagai jenis sensor. Seismograf broadband merekam getaran dengan rentang frekuensi lebar, sementara seismograf short period lebih sensitif terhadap getaran berfrekuensi tinggi. Data dari berbagai stasiun digunakan untuk menentukan lokasi dan magnitudo gempa.

Proses penentuan parameter gempa oleh BMKG meliputi analisis waktu tiba gelombang seismik di berbagai stasiun. Gelombang primer (P-wave) merambat lebih cepat dan tiba pertama di stasiun, diikuti oleh gelombang sekunder (S-wave) yang membawa energi lebih besar.

Selisih waktu tiba gelombang P dan S digunakan untuk menghitung jarak antara episentrum dan stasiun pencatat. Dengan data dari minimal tiga stasiun, lokasi episentrum dapat ditentukan melalui metode triangulasi.

Gempa susulan atau aftershock umumnya terjadi setelah gempa utama. BMKG memantau aktivitas seismik di wilayah sekitar episentrum untuk mendeteksi kemungkinan gempa susulan. Warga dihimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dalam beberapa hari ke depan.

Himbauan keselamatan saat gempa bumi mencakup menjauhi benda-benda yang dapat jatuh, berlindung di bawah meja yang kokoh jika berada di dalam ruangan, dan menjauhi jendela serta dinding luar. Jika berada di luar ruangan, disarankan menjauhi gedung, tiang listrik, dan pohon yang dapat tumbang.

Layanan darurat 112 dapat dihubungi oleh warga yang memerlukan bantuan pasca gempa. Dinas Kabupaten Tangerang juga menyediakan hotline khusus untuk pelaporan dampak gempa dan permintaan bantuan.

Data historis gempa di wilayah Tangerang menunjukkan aktivitas seismik yang relatif moderat dibandingkan dengan wilayah subduksi di selatan Jawa. Namun keberadaan sesar aktif di darat tetap menjadi ancaman yang dipantau secara berkala.

BMKG menerbitkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia yang diperbarui secara berkala. Peta ini menunjukkan distribusi gempa historis dan zona-zona dengan tingkat bahaya gempa yang berbeda. Wilayah Kabupaten Tangerang termasuk dalam zona dengan bahaya gempa sedang hingga tinggi.

Penelitian tentang sesar aktif di Jawa Barat dan Banten terus dilakukan oleh berbagai institusi termasuk BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dan lembaga penelitian perguruan tinggi. Data paleoseismologi digunakan untuk memperkirakan periode ulang gempa besar di sesar-sesar aktif.

Gempa magnitudo 4,6 di Kabupaten Tangerang ini menjadi catatan seismik untuk tahun 2026 di wilayah Banten. Data ini akan ditambahkan ke dalam katalog gempa nasional yang digunakan untuk analisis hazard dan perencanaan mitigasi bencana.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar Anda