Dengarinfo- Iran dilaporkan mengambil langkah untuk menutup Selat Hormuz menyusul serangan rudal yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu. Kapal-kapal di kawasan Teluk sudah menerima siaran radio frekuensi tinggi dari Garda Revolusi Iran yang memperingatkan bahwa kapal tidak akan diizinkan melintasi jalur perairan strategis tersebut.
Dikutip dari Gulfnews, Sabtu (28/2/2026), Selat Hormuz yang terletak di Teluk Arab merupakan jalur pelayaran vital bagi sekutu Amerika Serikat dan pasar energi global. Ketegangan di kawasan ini meningkat tajam setelah serangan militer terhadap Iran.
Garda Revolusi Iran (IRGC) melarang semua kapal melintasi Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak, mulai 28 Februari 2026. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap serangan militer gabungan AS dan Israel yang menargetkan instalasi militer dan intelijen Iran.
Pasar energi global bersiap menghadapi risiko besar akibat penutupan Selat Hormuz. Perusahaan minyak global menangguhkan pengiriman di Selat Hormuz akibat serangan regional. Pengiriman minyak global via Selat Hormuz terancam dihentikan, membuat urat nadi ekonomi dunia mulai tertekan.
Iran secara resmi menutup wilayah udaranya setelah serangan militer gabungan AS-Israel pada Sabtu 28 Februari 2026. Ledakan hebat terjadi di berbagai lokasi di Iran, termasuk di laut yang terlihat dari Haifa, Israel utara.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran. Serangan tersebut menargetkan instalasi nuklir dan fasilitas militer Iran. Trump menyebut operasi ini bertujuan untuk menghentikan ancaman nuklir dari Iran.
Sudah 35 rudal Iran tembus Iron Dome Israel sebagai balasan atas serangan tersebut. Ledakan di laut terlihat dari Haifa, Israel utara, menunjukkan intensitas konflik yang semakin meningkat.
Oman, negara tetangga di kawasan Teluk, menyatakan kekecewaan atas eskalasi militer yang terjadi. Negara-negara di kawasan Timur Tengah mulai mengambil langkah pencegahan dengan menutup bandara dan membatasi aktivitas penerbangan.
Delapan negara Timur Tengah telah menutup bandara mereka sebagai langkah keamanan menyusul meningkatnya ketegangan militer. Langkah ini menunjukkan kekhawatiran regional akan meluasnya konflik.
Selat Hormuz merupakan jalur laut internasional dan koridor perdagangan vital yang menopang stabilitas kawasan serta pasar energi global. Sekitar 20% dari seluruh minyak dunia melalui selat ini setiap harinya.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran akan berdampak signifikan terhadap pasokan energi global. Harga minyak dunia diprediksi akan melonjak tajam akibat terganggunya jalur distribusi minyak dari Timur Tengah.
AS sebelumnya telah memperingatkan Iran agar tidak menutup Selat Hormuz. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan tidak akan menoleransi tindakan yang dinilai tidak aman atau tidak profesional oleh Garda Revolusi Iran.
Namun, Iran tetap melanjutkan rencana penutupan Selat Hormuz. IRGC mengklaim memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz dan menentukan kapal-kapal dengan berbagai bendera yang diizinkan melintas .
Ketegangan di Teluk semakin memanas dengan adanya serangan balasan dari kedua belah pihak. Dunia internasional menyaksikan dengan cemas perkembangan konflik yang berpotensi meluas menjadi perang regional.
Pemerintah berbagai negara mulai mengevakuasi warga negaranya dari Iran dan Israel. Situasi di kawasan Timur Tengah semakin tidak menentu dengan kemungkinan eskalasi militer yang lebih besar.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar Anda