dengarinfo.com - Portal Berita Akurat & Terpercaya

Miliarder AS Leon Cooperman Perkuat Kepemilikan Saham di Manchester United, Kini Kuasai 5,2 Persen Setan Merah

Oleh: Anwar
20 February 2026
13 kali dibaca

Kepemilikan 5,2 persen saham Kelas A tersebut menjadikan Cooperman sebagai salah satu pemegang saham individu terbesar di Manchester United yang tercatat di bursa New York Stock Exchange dengan kode ticker MANU

Dengarinfo- Miliarder veteran Amerika Serikat Leon Cooperman kembali mempertegas posisinya sebagai salah satu investor individu terbesar di Manchester United dengan meningkatkan kepemilikan sahamnya di klub berjuluk Setan Merah tersebut. Investor berusia 82 tahun yang dikenal sebagai pendiri Omega Advisors itu kini tercatat memiliki 5,2 persen saham Kelas A Manchester United, nilainya ditaksir mencapai lebih dari USD 50 juta atau setara Rp 844,65 miliar.

Dilansir dari Yahoo Sports pada Jumat 20 Februari 2026, langkah Cooperman dalam menambah porsi kepemilikannya di Manchester United menunjukkan keyakinannya yang semakin kuat terhadap prospek jangka panjang klub yang bermarkas di Old Trafford tersebut meskipun performa tim di lapangan masih fluktuatif.

Kepemilikan 5,2 persen saham Kelas A tersebut menjadikan Cooperman sebagai salah satu pemegang saham individu terbesar di Manchester United yang tercatat di bursa New York Stock Exchange dengan kode ticker MANU. Posisinya kini melampaui beberapa investor institusional dan mendekati kepemilikan keluarga Glazer yang tetap menguasai saham mayoritas Kelas B dengan hak suara super.

Leon Cooperman memulai perjalanan investasinya di Manchester United pada tahun 2022 ketika keluarga Glazer pertama kali mengumumkan peninjauan strategis yang berpotensi mengakhiri 17 tahun kepemilikan mereka. Pada saat itu Cooperman membeli saham awal yang kemudian terus ia tambah secara bertahap selama periode transisi kepemilikan klub.

Kenaikan kepemilikan Cooperman menjadi 5,2 persen terjadi dalam beberapa bulan terakhir seiring dengan volatilitas harga saham Manchester United di pasar. Harga saham MANU sempat anjlok ke level terendah dalam lima tahun pada akhir 2024 akibat kekecewaan suporter terhadap manajemen dan performa tim, namun kemudian rebound setelah klub mengumumkan rencana pengembangan infrastruktur dan perubahan struktur kepemimpinan.

Dalam laporan ke Securities and Exchange Commission AS yang diajukan awal Februari 2026, Cooperman melalui entitas investasinya mengonfirmasi pembelian tambahan 1,8 juta saham Kelas A dalam kuartal terakhir 2025. Pembelian tersebut dilakukan dalam rentang harga USD 14 hingga USD 18 per saham, di bawah nilai IPO klub pada 2012 sebesar USD 14 namun di atas level terendah tahun lalu sekitar USD 11.

Analis pasar memperkirakan total investasi Cooperman di Manchester United sejak awal hingga kini telah mencapai sekitar USD 75 juta dengan nilai buku saat ini sekitar USD 50 juta mengingat harga saham masih di bawah harga beli rata-rata. Namun investor yang juga dikenal sebagai filantropis pendidikan ini tampak mengambil perspektif jangka panjang yang tidak terpengaruh fluktuasi jangka pendek.

Cooperman sendiri jarang berbicara publik tentang alasan spesifik di balik investasinya di Manchester United. Namun dalam wawancara dengan CNBC pada 2024 ia menyebut bahwa klub sepak bola dengan basis penggemar global seperti MU memiliki moat atau parit kompetitif yang sulit ditiru dalam bisnis lain.

Anda punya merek global, penggemar setia ratusan juta di seluruh dunia, dan potensi monetisasi yang belum tergarap optimal. Ini bukan sekadar investasi emosional karena saya penggemar olahraga. Ini investasi bisnis dengan kasus nilai yang jelas, ujar Cooperman dalam wawancara tersebut.

Kepemilikan saham Kelas A di Manchester United memang memberikan hak suara terbatas dibanding saham Kelas B yang dikuasai keluarga Glazer. Namun sebagai pemegang saham terbesar di antara investor publik, Cooperman memiliki pengaruh moral dan akses komunikasi dengan manajemen yang signifikan.

Dalam beberapa kesempatan rapat umum pemegang saham tahunan, Cooperman diketahui telah mengajukan pertanyaan keras mengenai arah strategis klub, efisiensi operasional, dan transparansi pengeluaran. Pendekatan konstruktif namun tegas tersebut mencerminkan gaya investasi value investing yang ia kembangkan selama lebih dari empat dekade di Wall Street.

Peningkatan kepemilikan Cooperman terjadi dalam konteks dinamika kepemilikan Manchester United yang masih kompleks. Keluarga Glazer melalui entitas kepemilikan mereka tetap mengontrol sekitar 69 persen saham Kelas B dengan hak suara 10 kali lipat per saham, memberikan mereka kendali absolut atas keputusan strategis klub.

Namun tekanan dari suporter dan investor seperti Cooperman telah mendorong beberapa perubahan. Pada 2024 Manchester United mengumumkan rencana pengembangan Old Trafford baru senilai GBP 2 miliar dan pembentukan komite khusus yang melibatkan perwakilan pemegang saham independen untuk mengawasi proyek tersebut.

Sir Jim Ratcliffe yang membeli 25 persen saham Kelas B dan 25 persen saham Kelas A pada awal 2024 juga telah mulai mengambil alih operasional sepak bola. Perubahan struktur ini menciptakan dinamika baru di mana investor seperti Cooperman harus menavigasi hubungan dengan dua pemegang saham besar yang berbeda kepentingan.

Analis sepak bola dan bisnis menyambut positif kehadiran Cooperman sebagai investor jangka panjang. Kepastian bahwa seorang investor berpengalaman dengan track record decennia menambah kepemilikan di tengah ketidakpastian dianggap sebagai sinyal kepercayaan terhadap fundamental bisnis klub.

David Bickerton, analis sport business dari Deloitte Sports Business Group, menilai bahwa kepemilikan Cooperman yang meningkat menunjukkan bahwa pasar modal masih melihat nilai dalam model bisnis Manchester United meskipun performa olahraga menurun.

Investor institusional seringkali kurang sabar dengan volatilitas klub sepak bola. Namun investor individu dengan horizon jangka panjang seperti Cooperman bisa memberikan stabilitas yang dibutuhkan. Kehadirannya juga meningkatkan kredibilitas klub di mata investor potensial lainnya, ujar Bickerton.

Dari sisi finansial, Manchester United memang menghadapi tantangan signifikan. Laporan keuangan kuartal terakhir menunjukkan kerugian operasional sebesar GBP 28,7 juta dengan utang bersih mencapai GBP 653 juta. Beban bunga dari utang yang sebagian besar merupakan warisan dari leveraged buyout keluarga Glazer pada 2005 terus membebani arus kas klub.

Namun pendapatan komersial Manchester United tetap kuat dengan basis penggemar global yang diperkirakan mencapai 1,1 miliar orang. Kontrak sponsor dengan Adidas, Chevrolet, dan berbagai merek global menyumbang ratusan juta dolar pendapatan tetap per tahun yang tidak terpengaruh hasil pertandingan.

Potensi pertumbuhan dari media digital, konten eksklusif, dan ekspansi pasar Asia serta Amerika Serikat menjadi argumen utama investor seperti Cooperman. Klub sepak bola elite dengan merek global dianggap sebagai aset langka yang akan semakin bernilai seiring dengan fragmentasi media dan peningkatan demand konten olahraga premium.

Leon Cooperman sendiri memiliki profil yang mengesankan di Wall Street. Ia mendirikan Omega Advisors pada 1991 setelah karir panjang di Goldman Sachs. Hedge fund yang dikelolanya menghasilkan return tahunan rata-rata lebih dari 12 persen selama lebih dari dua dekade, mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu investor value terbaik generasinya.

Setelah menutup Omega Advisors pada 2018 dan mengembalikan modal investor, Cooperman mengelola kekayaan pribadinya yang diperkirakan mencapai USD 2,5 miliar melalui entitas keluarga. Portofolionya yang terdiversifikasi mencakup saham teknologi, energi, kesehatan, dan kini semakin besar di sektor olahraga dengan Manchester United sebagai holding utama.

Di sisi filantropi, Cooperman terkenal dengan sumbangan besar untuk pendidikan. Ia dan istrinya Toby telah menyumbangkan lebih dari USD 500 juta untuk berbagai institusi pendidikan, dengan fokus pada beasiswa untuk siswa kurang mampu. Pendekatan memberi kail ikan daripada memberi ikan tersebut mencerminkan filosofi investasinya yang mengutamakan fundamental jangka panjang.

Hubungan antara kepemilikan saham Manchester United dan aktivitas filantropi Cooperman tidak langsung terlihat. Namun beberapa pengamat melihat paralel dalam pendekatannya terhadap klub sepak bola yang dianggapnya sebagai institusi dengan potensi dampak sosial besar melalui komunitas penggemarnya.

Manchester United Foundation sebagai lengan amal klub menjalankan program komunitas yang luas di Manchester dan secara global. Dengan kepemilikan saham yang lebih besar, Cooperman secara tidak langsung mendukung program-program tersebut meskipun tidak ada indikasi keterlibatan langsung dalam pengelolaan filantropi klub.

Kepemilikan 5,2 persen saham Kelas A juga memberikan Cooperman posisi likuid yang bisa dimanfaatkan dalam berbagai skenario. Jika keluarga Glazer akhirnya memutuskan menjual seluruh kepemilikan mereka, Cooperman bisa menjadi investor yang berhak mendapat penawaran preemptive atau setidaknya posisi negosiasi yang lebih baik.

Skenario lain adalah konsolidasi dengan investor lain untuk membentuk blok pengaruh yang lebih besar. Dengan Sir Jim Ratcliffe yang sudah memiliki 25 persen, kombinasi dengan kepemilikan Cooperman dan investor institusional lainnya bisa menciptakan koalisi yang berpengaruh dalam governance klub meskipun tidak mengontrol mayoritas suara.

Namun Cooperman tampaknya tidak tertarik dengan politik kepemilikan klub. Histori investasinya menunjukkan preferensi untuk posisi pasif dengan intervensi minimal dalam manajemen operasional. Ia lebih dikenal sebagai investor yang membeli dan menahan dengan keyakinan pada tim manajemen yang ada selama fundamental tetap solid.

Performa Manchester United di lapangan memang menjadi variabel yang sulit diprediksi. Musim 2024-2025 menunjukkan tanda-tanda perbaikan di bawah manajer Ruben Amorim namun konsistensi masih menjadi masalah. Kegagalan kualifikasi Liga Champions pada 2024-2025 memangkas pendapatan broadcasting yang menjadi sumber utama revenue klub.

Namun Cooperman tampaknya melihat ini sebagai siklus bisnis yang normal dalam olahraga. Klub besar dengan sejarah dan sumber daya seperti Manchester United dianggap memiliki kemampuan untuk rebound dari periode buruk. Investasi dalam infrastruktur, akademi, dan rekruitmen yang tepat dipercaya akan membawa hasil jangka panjang.

Dalam konteks yang lebih luas, kepemilikan Cooperman yang meningkat mencerminkan tren globalisasi investasi di sepak bola elite Eropa. Investor dari Amerika Serikat, Timur Tengah, dan Asia semakin melihat klub-klub Premier League sebagai aset alternatif yang menarik dengan karakteristik unik.

Kombinasi dari exposure global, loyalitas penggemar yang tidak terpengaruh siklus ekonomi, dan potensi pertumbuhan media digital membuat sepak bola elite berbeda dari aset olahraga lainnya. Tidak ada liga Amerika Serikat yang memiliki basis penggemar global setara dengan Premier League dan klub-klub besar seperti Manchester United.

Leon Cooperman dengan kepemilikan 5,2 persen saham Kelas A kini menjadi bagian dari narasi globalisasi tersebut. Dari kantornya di Florida, investor berusia 82 tahun tersebut memantau perkembangan klub yang berbasis 4.000 mil jauhnya dengan keyakinan bahwa investasinya akan memberikan return yang memuaskan bagi generasi berikutnya.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar Anda