Dengarinfo- Bank Indonesia (BI) menargetkan transaksi digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) meningkat signifikan hingga mencapai 150 juta transaksi per hari pada tahun 2030. Target ambisius tersebut merupakan bagian dari Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030 yang telah diluncurkan oleh bank sentral.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa saat ini transaksi digital tercatat sekitar 47 juta per hari. Lonjakan ke 150 juta transaksi per hari pada 2030 menunjukkan pertumbuhan lebih dari tiga kali lipat dari kondisi saat ini.
"BI sudah meluncurkan blueprint sistem pembayaran Indonesia 2030, digital transaksi akan reaching 150 billion transaksi per day dari sekarang 47 juta," ujar Perry Warjiyo dalam acara soft launching Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) di kantor Bank Indonesia, Senin (23/2/2026).
Capaian pengguna QRIS telah menembus 60 juta orang, melampaui target yang ditetapkan untuk tahun 2026. Target pengembangan QRIS pada 2026 mencakup 17 miliar transaksi, 45 juta merchant, 60 juta pengguna, serta implementasi kerja sama lintas negara di delapan negara.
"Sekarang berapa QRIS digunakan? 60 juta pengguna QRIS, dan QRIS sudah digunakan di Malaysia, Thailand, Singapura, Jepang," ujar Perry.
Penggunaan QRIS dalam waktu dekat akan diperluas ke China, Korea Selatan, dan India. Selain itu, BI juga tengah menjajaki penyambungan QRIS dengan Kartu Nusuk di Arab Saudi guna mempermudah transaksi jemaah Indonesia yang menjalankan ibadah haji dan umrah.
Target 17 miliar transaksi QRIS pada 2026 dirumuskan dalam filosofi angka Kemerdekaan 17-8-4-5. Angka 17 mewakili 17 miliar transaksi, 8 untuk ekspansi ke delapan negara, 4 untuk 45 juta merchant, dan 5 untuk 60 juta pengguna.
Ekonom Senior Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Willy Togi, menjelaskan bahwa target 2026 merupakan kelanjutan dari performa impresif sepanjang 2025. Hingga akhir tahun lalu, QRIS telah merangkul 42,75 juta merchant dengan volume transaksi menembus 15,51 miliar.
Fokus utama BI pada 45 juta merchant adalah sektor Usaha Mikro, yang diproyeksikan mendominasi hingga 95 persen dari total akseptasi. Hal ini mengukuhkan QRIS sebagai tulang punggung digitalisasi ekonomi kerakyatan.
Strategi internasionalisasi QRIS mengandalkan skema Local Currency Transaction (LCT), yang memungkinkan konversi langsung antar mata uang lokal tanpa harus melalui dolar AS. Skema ini dinilai lebih murah, efisien, dan sederhana bagi masyarakat saat bertransaksi di luar negeri.
Untuk mencapai target 60 juta pengguna, BI meluncurkan kampanye tematik bertajuk QRIS Jelajah Kuliner Indonesia dengan konsep QRIS Star. Program ini dirancang untuk memberikan apresiasi kepada merchant unggulan sekaligus meningkatkan standar layanan pelaku usaha mikro agar lebih berdaya saing.
Pertumbuhan QRIS yang pesat didorong oleh kemudahan satu kode QR untuk semua. Sistem ini menghubungkan jutaan UMKM di seluruh Indonesia dengan layanan keuangan digital domestik maupun lintas negara.
Dalam Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2030, BI memproyeksikan volume transfer dana ritel secara daring tumbuh eksponensial dan mencapai 10,05 miliar transaksi pada tahun 2030 atau naik 14 kali lipat dibandingkan tahun 2023.
Faktor demografis dan pertumbuhan ekonomi mendorong lonjakan transaksi digital nasional di masa depan. Menguatnya partisipasi ekonomi milenial dan generasi Z juga berimplikasi pada prospek meningkatnya tingkat adopsi teknologi pembayaran digital.
Transformasi digital sistem pembayaran nasional juga mendorong perbankan untuk beradaptasi. Hampir seluruh bank umum di Indonesia telah membuka kanal mobile digital yang terhubung dengan QRIS untuk melayani kebutuhan transmisi masyarakat.
Sejumlah bank di Indonesia juga mulai mengimplementasikan teknologi inovatif, seperti kecerdasan buatan dan machine learning, untuk memperkuat daya saing dan layanan kepada nasabahnya, termasuk untuk membantu proses personalisasi nasabah, deteksi fraud, dan credit scoring.
Reformasi regulasi yang mengubah pendekatan pengaturan sistem pembayaran dari entity-based menjadi activity-based diharapkan mampu memudahkan industri dalam memenuhi kebijakan Bank Indonesia. Melalui inisiatif ini, BI menyederhanakan 135 ketentuan sistem pembayaran menjadi empat ketentuan.
Efisiensi ekonomi meningkat dengan pergeseran preferensi transaksi masyarakat dari tunai ke non-tunai. Rasio transaksi digital terhadap uang kartal di luar sistem perbankan terus meningkat, mengonfirmasi pergeseran preferensi transaksi masyarakat.
Dukungan digitalisasi pembayaran yang ditempuh melalui implementasi BSPI 2025 juga berdampak positif pada tingkat inklusi ekonomi keuangan nasional. Tingkat inklusi keuangan menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional Bank Pusat Statistik naik signifikan.
Dengan berbagai capaian tersebut, BI optimistis target 150 juta transaksi per hari pada 2030 dapat tercapai. Pertumbuhan ini akan didukung oleh ekspansi merchant, peningkatan literasi digital, serta perluasan kerja sama lintas negara.
Keberhasilan QRIS menjadi fondasi kuat bagi transformasi ekonomi digital Indonesia. Melalui kemudahan bertransaksi yang ditawarkan, QRIS diharapkan terus menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia dalam bertransaksi sehari-hari.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar Anda