Dengarinfo- Sandiaga Uno selaku Founder Yayasan Indonesia Setara (YIS) dan Sandination Academy menggelar Program Desa EMAS (Ekonomi Maju & Sejahtera) 2026 di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Program yang diprakarsai oleh INOTEK Foundation bersama YIS ini diikuti oleh puluhan warga setempat yang antusias mengikuti pelatihan pembuatan produk inovatif bernilai ekonomi tinggi.
Acara peluncuran program berlangsung di sebuah gedung pertemuan di Kebumen dengan kehadiran Sandiaga Uno secara langsung. Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif era Presiden Joko Widodo tersebut tampak energik saat berinteraksi dengan peserta yang mayoritas merupakan pelaku usaha mikro, petani, dan pengrajin lokal.
Dalam sambutannya, Sandiaga menegaskan bahwa Program Desa EMAS 2026 dirancang khusus untuk membuat Kebumen semakin berdaya melalui pendekatan pemberdayaan ekonomi berbasis inovasi. Bukan sekadar bantuan modal atau sembako, program ini mengedepankan transfer pengetahuan dan keterampilan yang bisa diwariskan antargenerasi.
"Kegiatan ini kita tujukan agar Kebumen semakin berdaya dengan mengikuti pelatihan pembuatan produk inovatif bernilai ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan," ujar Sandiaga dengan nada yang menggugah semangat peserta.
Ia menambahkan bahwa konsep Desa EMAS berbeda dengan program pemberdayaan konvensional yang seringkali bersifat one-off dan tidak berkelanjutan. Program ini dirancang dengan sistem pendampingan jangka panjang yang menghubungkan warga dengan pasar, teknologi, dan jaringan bisnis yang lebih luas.
Kebumen dipilih sebagai lokasi peluncuran Program Desa EMAS 2026 bukan tanpa alasan. Kabupaten di pesisir selatan Jawa Tengah ini memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah namun tingkat kesejahteraan masyarakatnya masih di bawah rata-rata nasional. Data Badan Pusat Statistik 2024 menunjukkan angka kemiskinan di Kebumen masih mencapai 14,2 persen, di atas rata-rata provinsi Jawa Tengah sebesar 11,8 persen.
Namun di balik angka kemiskinan tersebut, Kebumen menyimpan kekayaan intelektual dan kultural yang belum tergarap optimal. Hasil pertanian seperti kopi, coklat, rempah, dan produk laut berkualitas premium seringkali dijual mentah dengan harga rendah. Kerajinan tradisional seperti batik Kebumen, anyaman bambu, dan ukiran kayu jati memiliki estetika tinggi namun terbatas dalam jangkauan pasar.
Program Desa EMAS 2026 datang dengan misi mengubah paradigma tersebut. Bahan baku berkualitas harus diolah menjadi produk dengan nilai tambah tinggi. Kerajinan tradisional harus dipadukan dengan desain kontemporer yang sesuai selera pasar global. Petani dan pengrajin harus ditransformasi menjadi entrepreneur yang menguasai rantai nilai penuh.
Sandiaga Uno menjelaskan bahwa Yayasan Indonesia Setara yang didirikannya pada 2023 memiliki visi menciptakan kesetaraan kesempatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Tidak ada lagi kesenjangan antara pusat dan daerah, antara perkotaan dan pedesaan, antara yang punya akses dan yang tertinggal.
"Yayasan Indonesia Setara lahir dari keyakinan bahwa setiap warga Indonesia berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang. Tidak peduli di mana mereka lahir, tidak peduli latar belakang keluarga mereka. Kalau kita beri akses pengetahuan, akses pasar, dan akses modal yang tepat, mereka bisa berkarya luar biasa," papar Sandiaga dengan penuh keyakinan.
Sandination Academy sebagai unit pelatihan YIS menyusun kurikulum khusus untuk Program Desa EMAS 2026. Kurikulum tersebut mencakup tiga pilar utama yaitu inovasi produk, pengembangan merek, dan digitalisasi pemasaran. Setiap pilar dirancang dengan pendekatan hands-on dan learning by doing.
Pilar inovasi produk mengajarkan warga untuk mengolah bahan baku lokal menjadi produk yang berbeda dan bernilai lebih tinggi. Petani kopi diajari teknik roasting dan blending untuk menciptakan signature blend Kebumen. Peternak diajari pengolahan susu menjadi keju artisanal dan produk olahan bernilai tinggi. Nelayan diajari teknik pengolahan ikan yang memperpanjang umur simpan dan meningkatkan nilai jual.
Pilar pengembangan merek fokus pada penciptaan identitas produk yang kuat. Warga diajari cara bercerita tentang asal-usul produk mereka, cara mendesain kemasan yang menarik, dan cara membangun reputasi melalui konsistensi kualitas. Konsep storytelling menjadi inti dari pilar ini mengingat konsumen modern semakin menghargai narasi di balik produk yang mereka beli.
Pilar digitalisasi pemasaran merupakan terobosan yang paling dinantikan. Warga diajari cara memanfaatkan platform e-commerce, media sosial, dan digital payment untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Sandination Academy bekerjasama dengan praktisi digital marketing untuk memberikan pelatihan praktis yang bisa langsung diaplikasikan.
INOTEK Foundation sebagai mitra strategis YIS dalam Program Desa EMAS 2026 membawa kekuatan pada aspek inovasi teknologi. Yayasan yang berfokus pada inovasi sosial ini menyediakan akses pada teknologi tepat guna yang bisa meningkatkan produktivitas dan kualitas produk warga.
Direktur INOTEK Foundation, dr. Tirta Mandira Hudhi, yang turut hadir di Kebumen menjelaskan bahwa teknologi yang diperkenalkan bukan teknologi mahal dan rumit. Justru yang diprioritaskan adalah teknologi sederhana yang bisa dipelihara dan dikembangkan oleh warga sendiri.
"Kami membawa teknologi pengering tenaga surya untuk produk pertanian, alat pengemasan vakum sederhana, dan aplikasi manajemen produksi yang bisa dioperasikan di ponsel biasa. Ini teknologi yang tidak membuat warga tergantung, justru membuat mereka lebih mandiri," ujar dr. Tirta.
Program Desa EMAS 2026 di Kebumen diikuti oleh 120 peserta yang terseleksi dari 15 desa di berbagai kecamatan. Seleksi dilakukan berdasarkan kriteria kesiapan, komitmen, dan potensi produk yang dimiliki. Bukan hanya individu yang dipilih, melainkan kelompok usaha atau koperasi yang menunjukkan semangat kolaborasi.
Salah satu peserta, Sutarni, 45 tahun, dari Desa Petanahan, mengaku bersemangat mengikuti pelatihan. Selama ini ia dan kelompok wanita tani di desanya menjual gula kelapa mentah dengan harga Rp12.000 per kilogram. Setelah mengikuti sesi inovasi produk, ia melihat peluang mengolah gula kelapa menjadi karamel artisanal, sirup infused dengan rempah lokal, dan bahan baku kosmetik alami.
"Saya baru tahu kalau gula kelapa kita bisa jadi banyak produk. Yang tadinya dijual murah, kalau diolah dengan benar bisa laku Rp50.000 sampai Rp100.000 per kilogram. Ini mata saya terbuka," cerita Sutarni dengan mata berbinar.
Peserta lain, Jumadi, 38 tahun, dari Desa Klirong, merupakan pengrajin batik yang kesulitan menjual produknya sejak pandemi Covid-19. Pelatihan digitalisasi pemasaran memberinya harapan baru untuk menjangkau pasar melalui platform online.
"Saya tadinya pusing batik saya tidak laku karena toko offline sepi. Sekarang saya belajar foto produk dengan ponsel, upload ke Instagram, dan terima pesanan dari Jakarta bahkan dari luar negeri. Minggu lalu ada pembeli dari Malaysia," ungkap Jumadi bangga.
Sandiaga Uno secara pribadi mengunjungi beberapa stan produk peserta dan memberikan masukan langsung. Ia mencicipi kopi arabika Kebumen yang diolah oleh kelompok tani muda dan memberikan apresiasi atas kualitas cupping yang mencapai skor 85. Ia juga mengamati proses pembuatan kerajinan anyaman yang dipadukan dengan elemen desain modern.
"Potensi Kebumen luar biasa. Saya yakin dalam dua tahun ini kita akan melihat produk-produk dari sini bersaing di pasar nasional bahkan internasional. Yang penting konsistensi dan komitmen untuk terus belajar," tegas Sandiaga saat berkeliling.
Program Desa EMAS 2026 tidak berhenti pada pelatihan satu kali. YIS dan INOTEK Foundation berkomitmen untuk pendampingan selama 24 bulan ke depan. Setiap kelompok peserta akan memiliki mentor dari kalangan praktisi bisnis, akademisi, dan profesional muda yang rela mengorbankan waktu.
Sistem mentoring ini dirancang dengan pendekatan community of practice. Mentor tidak datang sebagai pengajar yang tahu segalanya, melainkan sebagai teman belajar yang berbagi pengalaman dan jaringan. Pertemuan dilakukan secara rutin baik offline maupun online untuk mengatasi kendala yang dihadapi peserta.
Selain mentoring individu, Program Desa EMAS 2026 juga membangun infrastruktur kolektif. Platform digital bersama akan dibangun untuk memasarkan produk-produk peserta dengan merek umbrella Desa EMAS Kebumen. Pameran dan bazar rutin akan diadakan di kota-kota besar untuk memperkenalkan produk ke pembeli potensial.
Akses pembiayaan juga menjadi perhatian. YIS bekerjasama dengan lembaga keuangan mikro dan bank syariah untuk menyediakan skema pembiayaan produktif dengan suku bunga ringan. Bukan pinjaman konsumtif yang membebani, melainkan modal kerja yang bisa dikembalikan dari hasil penjualan produk.
Sandiaga Uno menegaskan bahwa keberhasilan Program Desa EMAS 2026 di Kebumen akan menjadi model untuk replikasi di daerah lain. Targetnya adalah 100 desa di seluruh Indonesia bisa mengikuti program serupa dalam lima tahun ke depan.
"Kebumen adalah pilot project. Kalau berhasil, kita akan bawa ke Gunungkidul, ke Flores, ke Sumba, ke Kalimantan, ke seluruh pelosok Indonesia. Tidak ada desa yang tidak bisa maju kalau kita beri akses yang tepat," janji Sandiaga.
Pemerintah Kabupaten Kebumen menyambut positif program ini. Bupati Kebumen Arif Sugiyanto yang hadir dalam acara peluncuran menegaskan bahwa pemerintah daerah akan memberikan dukungan penuh termasuk kemudahan perizinan, akses infrastruktur, dan promosi produk lokal.
"Kami sangat berterima kasih kepada Pak Sandiaga dan tim yang memilih Kebumen. Ini bukan sekadar program, ini adalah investasi sosial yang nilainya tidak bisa diukur dengan uang. Kami komitmen untuk memastikan program ini berhasil," ujar Bupati Arif.
Acara peluncuran Program Desa EMAS 2026 di Kebumen ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman antara YIS, INOTEK Foundation, Pemerintah Kabupaten Kebumen, dan perwakilan kelompok peserta. Nota tersebut mengikat komitmen berbagai pihak untuk bekerjasama dalam pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.
Sandiaga Uno menutup acara dengan pesan yang menggugah. "Desa EMAS bukan sekadar nama program. EMAS itu Ekonomi Maju dan Sejahtera. Tapi EMAS juga adalah logam mulia yang tersembunyi di dalam tanah, yang butuh digali, diolah, dan diasah agar bersinar. Warga Kebumen adalah emas-emas yang akan kita asah bersama."
Dengan semangat kolaborasi tersebut, Program Desa EMAS 2026 dimulai dengan langkah pasti. Puluhan warga Kebumen yang tadinya hanya penonton dalam pertumbuhan ekonomi nasional kini menjadi aktor utama dalam perubahan kesejahteraan mereka sendiri dan komunitas mereka.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar Anda