Amerika Serikat dan Seni Kebal dari Segala Dosa
Opini

Amerika Serikat dan Seni Kebal dari Segala Dosa

Oleh: Freedom
05 January 2026
20 kali dibaca

Amerika Serikat bukan sekadar negara. Ia adalah standar ganda yang diberi paspor moral.

Pertanyaannya keliru sejak awal. Bukan “siapa”, tapi “apa”. Karena selama dunia masih hidup di bawah satu matahari bernama kekuatan, kegilaan itu bukan anomali, melainkan sistem.

Amerika Serikat bukan sekadar negara. Ia adalah standar ganda yang diberi paspor moral. Ia menulis hukum internasional dengan satu tangan, lalu menghapusnya dengan tangan lain ketika huruf-huruf itu mulai mengarah ke dirinya. Dunia tahu. Tapi dunia memilih pura-pura rabun.

Kalau negara kecil melanggar hukum internasional, judul berita berubah jadi vonis. Kalau Washington yang melanggar, kosa katanya berganti jas. Bom disebut pre-emptive strike. Kudeta disebut democracy promotion. Sanksi yang membunuh pelan-pelan disebut strategic pressure. Bahasa dipoles agar darah tampak seperti tinta.

Ambil Saddam Hussein. Ia tak hanya digantung oleh algojo, tapi oleh narasi global yang dirajut rapi. Senjata pemusnah massal. Tabung reaksi. Pidato dramatis di PBB. Intelijen “valid”. Setelah Irak dihancurkan, jutaan nyawa melayang, senjata itu tak pernah ada. Tapi tak ada pengadilan bagi para pembohong. Yang dihukum tetap Saddam. Yang dituduh tetap Irak. Yang kebal tetap Amerika. Di dunia modern, kebohongan tak dihukum kalau dilontarkan dari podium yang tepat.

Lihat Nicolas Maduro. Venezuela dicekik bukan dengan peluru, tapi dengan sanksi. Lebih bersih, lebih sunyi, lebih mematikan. Rakyat antre pangan, listrik padam, obat langka. Dunia berkata itu akibat rezim otoriter. Jarang disebut bahwa sanksi ekonomi adalah bentuk hukuman kolektif yang melanggar hak hidup paling dasar. Siapa yang berani menyeret Amerika ke pengadilan karena membuat satu bangsa kelaparan secara sistematis? Tak ada. Maduro dijadikan monster di layar. Amerika berdiri di balik kamera sebagai sutradara.
Bashar al-Assad? Suriah dijadikan papan catur. Tuduhan senjata kimia, perang proksi, intervensi bertubi-tubi. Assad dicap diktator berdarah dingin. Mungkin iya. Tapi anehnya, saat bom Amerika jatuh ke Suriah tanpa mandat PBB, hukum internasional mendadak gagap. Tak ada sanksi. Tak ada pengadilan. Yang ada hanya pernyataan prihatin, seperti kartu ucapan belasungkawa setelah pesta pora kehancuran.

Daftarnya panjang dan berulang. Muammar Gaddafi dilucuti, lalu ditinggalkan mati di selokan. Slobodan Milošević diadili sampai ajal. Iran disanksi. Korea Utara diisolasi. Rusia dimaki, kali ini karena berani melawan arsitek sistem itu sendiri. Polanya konsisten. Yang tidak tunduk, akan dihukum atas nama hukum.
Sementara Amerika? Nikaragua menang di Mahkamah Internasional, tapi putusannya dibuang ke tong sampah diplomasi. Guantánamo berjalan puluhan tahun, tanpa rasa bersalah, tanpa akhir. Jaksa International Criminal Court diancam dan disanksi karena berani mendekat. Kalau hukum melangkah ke arah Washington, hukumlah yang dipukul mundur. Bukan sebaliknya.

Di titik ini, mari berhenti berpura-pura. Hukum internasional bukan dewi keadilan bermata tertutup. Ia membuka mata lebar-lebar, menimbang kekuatan sebelum menimbang keadilan. Pedangnya tajam ke yang lemah, tumpul ke yang kuat. Dan dunia, entah sadar atau pura-pura lupa, ikut bermain dalam sandiwara ini karena takut jadi adegan berikutnya.

Pesan tak tertulisnya sederhana, wak. Jangan jadi Saddam kalau tak punya nuklir. Jangan jadi Maduro kalau ekonomimu rapuh. Jangan jadi Assad kalau tak punya sekutu keras kepala. Karena tanpa itu, hukum internasional akan datang bukan sebagai wasit, tapi sebagai regu eksekusi lengkap dengan kamera, sanksi, dan rudal.

Maka ketika pembaca menghela napas, itu bukan tanda setuju. Itu tanda paham. Di dunia seperti ini, idealisme adalah barang mewah. Kedaulatan adalah kontrak yang bisa dibatalkan sepihak. Strategi bertahan paling aman bukan melawan, bukan berteriak soal keadilan, tapi menunduk rapi, ikut arus, dan berharap tak dijadikan contoh.

Sejarah modern sudah terlalu sering mengulang pelajaran pahitnya. Hukum internasional keras ke yang lemah, lunak ke yang kuat, dan sepenuhnya tak berdaya di bawah bayang-bayang Amerika Serikat. Paling jauh, manusia hanya bisa berdoa agar Paman Sam bosan membuat drama global dan berhenti mempermainkan negara kecil.
Ada juga doa brutal: minta Amerika dihancurkan. Lalu ada yang nyeletuk, “Kasihan kalau hancur. Zohran Zamdani baru saja jadi Walikota New York, wak.”

Ironis, ya. Bahkan dalam kemarahan, dunia masih sempat bercanda. Mungkin karena itulah kegilaan ini terus hidup.