DengarInfo — Kapten kapal tanker MT Honour-25, Ashari Samadikun, menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga lima anak buah kapal (ABK) yang meninggal dunia dalam insiden penyanderaan perompak Somalia. Ashari menyampaikan permintaan maaf itu saat tiba di Indonesia bersama tiga WNI lainnya, Selasa (6/10/2026).
Ashari tampak menangis ketika menyampaikan pernyataannya di Terminal VIP Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Ia mengaku merasa bersalah karena tidak dapat membawa seluruh kru kapal kembali dalam keadaan selamat.
"Saya selaku kapten, memohon maaf sebesar-besarnya kepada kelima keluarga kru saya yang telah meninggal," kata Ashari.
"Saya tidak bisa menepati janji saya membawa semua kru saya dengan keadaan selamat. Saya memohon maaf sebesar-besarnya," lanjutnya.
Total 17 awak berada di atas MT Honour-25 ketika kapal tersebut dibajak dan disandera perompak di perairan Somalia pada 21 April 2026. Empat di antaranya merupakan warga negara Indonesia.
Keempat WNI tersebut yakni Ashari Samadikun selaku kapten kapal asal Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan; Adi Faizal sebagai 2nd Officer asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan; Wahudinanto sebagai Chief Officer asal Pemalang, Jawa Tengah; dan Fiki Mutakin asal Bogor, Jawa Barat.
Dalam proses pembebasan pada 29 September 2026, lima ABK asing dilaporkan meninggal dunia. Kelima korban terdiri atas tiga warga Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar.
Empat WNI kemudian berhasil dibebaskan dan menjalani proses pemulangan. Mereka tiba di Terminal VIP Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 18.41 WIB, Selasa (6/10).
Kepulangan mereka disambut keluarga dengan suasana haru. Sejumlah keluarga terlihat memeluk para ABK yang baru kembali setelah lebih dari lima bulan berada dalam penyanderaan. Salah seorang anggota keluarga bahkan dilaporkan sempat pingsan.
Salah satu WNI yang tiba juga terlihat menggunakan kursi roda. Sebelumnya, Fiki Mutakin dilaporkan mengalami luka dalam insiden pembebasan tersebut.
Ashari turut menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Indonesia yang membantu proses pembebasan dan pemulangan para WNI. Ia mengatakan KBRI Nairobi menjadi pihak yang pertama kali dihubunginya ketika mendapat kesempatan berkomunikasi dari luar kapal selama masa penyanderaan.
"Di mana hari pertama saya mendapatkan kesempatan untuk menghubungi di luar kapal, yaitu yang pertama saya hubungi adalah Kedutaan Besar Nairobi," ujarnya.
Penyanderaan MT Honour-25 berlangsung selama lebih dari lima bulan sebelum aparat bersenjata Puntland melakukan operasi pembebasan pada 29 September 2026. Operasi tersebut berhasil membebaskan para sandera yang masih hidup dan mengamankan kapal.
Kepulangan empat WNI ke Indonesia pada 6 Oktober 2026 menandai berakhirnya masa penyanderaan yang berlangsung sejak April 2026.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar Anda