Dengarinfo – Jurnalisme tidak sekadar menyampaikan kabar, tetapi juga membentuk cara berpikir publik. Pesan itulah yang ditegaskan Halida Hatta dalam diskusi bertema “3 Wajah Roehana Koeddoes” yang digelar dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional 2026.
Dalam forum tersebut, Halida menekankan bahwa media massa memiliki tanggung jawab yang jauh melampaui kecepatan publikasi dan persaingan klik. Di tengah lanskap digital yang serba instan, ia mengingatkan agar jurnalisme tidak terjebak dalam pusaran sensasi yang mengaburkan esensi. Menurutnya, media adalah ruang pembelajaran kolektif, tempat masyarakat membangun pemahaman, menimbang informasi, dan membentuk sikap terhadap berbagai persoalan publik.
Ia menyebut bahwa arus informasi saat ini bergerak begitu cepat, nyaris tanpa jeda untuk refleksi. Karena itu, fungsi edukatif media justru harus diperkuat. Jurnalisme, kata Halida, perlu kembali menegaskan posisinya sebagai pilar pendidikan publik yang menghadirkan informasi akurat, berimbang, dan kontekstual. Bukan hanya memberi tahu apa yang terjadi, tetapi juga membantu publik memahami mengapa hal itu terjadi dan apa dampaknya bagi kehidupan bersama.
Diskusi tersebut turut mengangkat kiprah Roehana Koeddoes, jurnalis perempuan pelopor di Indonesia yang dikenal tidak hanya sebagai pewarta, tetapi juga pendidik dan penggerak emansipasi. Halida menilai Roehana telah menunjukkan bahwa media bisa menjadi alat pemberdayaan yang efektif. Melalui tulisan dan gerakan pendidikannya, Roehana mendorong perempuan untuk melek huruf, berpikir kritis, dan memiliki keterampilan praktis yang menunjang kemandirian.
Halida secara khusus menyoroti gagasan home economics yang diperkenalkan Roehana pada masanya. Konsep tersebut mencakup pendidikan keterampilan praktis seperti pengelolaan keuangan rumah tangga, pencatatan administrasi, hingga kecakapan hidup sehari-hari. Menurut Halida, nilai-nilai ini tetap relevan di tengah tantangan ekonomi modern. Ia berpandangan bahwa jurnalisme masa kini dapat mengambil peran serupa dengan menghadirkan konten yang memperkuat literasi finansial, kewirausahaan, serta manajemen keluarga secara bijak.
Ia menambahkan, pemberdayaan tidak selalu hadir dalam bentuk wacana besar atau teori yang rumit. Terkadang, ia justru lahir dari panduan sederhana yang aplikatif dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Media, menurutnya, memiliki potensi besar untuk menjembatani pengetahuan praktis dengan kebutuhan nyata masyarakat.
Selain aspek edukasi, Halida juga menyinggung tantangan yang masih dihadapi jurnalis perempuan. Ia menekankan pentingnya menjaga kebebasan berekspresi dan memastikan ruang yang setara dalam dunia pers. Kesetaraan bukan sekadar slogan, tetapi harus tercermin dalam kesempatan, perlindungan, dan pengakuan atas karya serta profesionalisme jurnalis perempuan.
Diskusi ini menjadi pengingat bahwa jurnalisme bukan hanya penyampai fakta, melainkan juga penyalur nilai dan penumbuh kesadaran sosial. Di tengah riuhnya informasi digital dan derasnya opini yang saling bertabrakan, kehadiran media yang mendidik, berintegritas, dan berpihak pada kepentingan publik tetap menjadi kebutuhan mendasar. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya mengetahui peristiwa, tetapi juga mampu memahaminya secara utuh dan bijaksana.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar Anda