Dengarinfo - Gempa bumi yang mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, dinilai menjadi pembelajaran penting bagi negara-negara yang berada di kawasan rawan gempa, termasuk Indonesia, dalam memperkuat upaya mitigasi terhadap gempa bumi dangkal. Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menyatakan bahwa peristiwa tersebut menunjukkan besarnya potensi kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas sesar aktif di daratan, terutama ketika pusat gempa berada pada kedalaman yang sangat dangkal. Menurutnya, karakteristik gempa seperti ini mampu menghasilkan guncangan yang jauh lebih merusak dibandingkan gempa dengan kedalaman yang lebih besar, sehingga kesiapsiagaan dan sistem mitigasi menjadi faktor utama dalam mengurangi risiko korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur.
Daryono menjelaskan bahwa gempa yang terjadi di Kumamoto dipicu oleh aktivitas tektonik pada kedalaman sekitar 10 kilometer. Kedangkalan hiposenter tersebut menyebabkan guncangan permukaan mencapai intensitas Shindo 7, yaitu tingkat tertinggi dalam skala intensitas gempa yang digunakan Jepang. Pada tingkat tersebut, guncangan digambarkan mampu merobohkan bangunan biasa, menguji batas ketahanan bangunan tahan gempa, serta menimbulkan kerusakan serius pada berbagai infrastruktur. Kondisi ini memperlihatkan bahwa kekuatan destruktif sebuah gempa tidak hanya ditentukan oleh magnitudonya, tetapi juga oleh kedalaman sumber gempa dan kedekatannya dengan kawasan permukiman.
Menurut Daryono, salah satu pelajaran penting dari Jepang adalah kesiapan sistem mitigasi yang mampu bekerja secara otomatis ketika gempa besar terjadi. Saat gempa mengguncang Kumamoto, sistem keselamatan langsung menghentikan operasional kereta cepat Shinkansen secara otomatis sebagai langkah pencegahan kecelakaan. Selain itu, aliran listrik di sejumlah wilayah juga diputus untuk mengurangi risiko kebakaran maupun bahaya lanjutan yang dapat muncul setelah gempa. Langkah-langkah otomatis tersebut dinilai berhasil mengurangi potensi dampak yang lebih besar meskipun gempa tetap menyebabkan kerusakan fisik di berbagai lokasi.
Meski memiliki sistem mitigasi yang maju, gempa tersebut tetap menimbulkan berbagai dampak. Beberapa bangunan bersejarah mengalami kerusakan, bentang jembatan jalan tol mengalami pergeseran, terjadi retakan besar yang memutus sejumlah ruas jalan, serta tanah longsor di beberapa wilayah. Operasional kereta cepat di seluruh koridor Kyushu juga sempat dihentikan sesuai prosedur keselamatan, sementara ribuan rumah mengalami pemadaman listrik. Selain kerusakan infrastruktur, gempa juga mengakibatkan korban luka dan memaksa sebagian warga mengungsi ke tempat penampungan sementara sebagai langkah antisipasi terhadap gempa susulan.
Daryono menilai pengalaman Jepang memberikan gambaran bahwa negara yang berada di atas jalur sesar aktif harus terus melakukan evaluasi berkala terhadap bangunan-bangunan lama yang belum memenuhi standar ketahanan gempa. Selain itu, sistem peringatan dini otomatis perlu terus dikembangkan, khususnya di kawasan permukiman padat yang berada di sekitar zona sesar aktif. Penguatan regulasi mengenai bangunan tahan gempa, peningkatan kualitas konstruksi, serta pemetaan rinci terhadap jalur sesar aktif juga menjadi langkah penting dalam mengurangi risiko kerusakan ketika gempa terjadi.
Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas seismik tertinggi di dunia karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire. Kondisi tersebut menyebabkan berbagai wilayah di Indonesia memiliki potensi mengalami gempa bumi akibat aktivitas pertemuan lempeng tektonik maupun pergerakan sesar aktif di daratan. Oleh sebab itu, pembelajaran dari pengalaman Jepang dinilai relevan untuk diterapkan dalam upaya memperkuat kesiapsiagaan nasional menghadapi ancaman gempa bumi, khususnya gempa dangkal yang memiliki potensi kerusakan besar dalam waktu yang sangat singkat.
Selain aspek infrastruktur, kesiapan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana. Edukasi mengenai langkah penyelamatan diri saat terjadi gempa, penyediaan jalur evakuasi yang jelas, latihan kebencanaan secara berkala, serta pemahaman terhadap risiko di lingkungan tempat tinggal dinilai mampu meningkatkan kemampuan masyarakat menghadapi situasi darurat. Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa kombinasi antara teknologi, regulasi, infrastruktur yang tahan gempa, dan budaya kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam menekan dampak bencana meskipun kekuatan gempa sangat besar.
Di sisi lain, para ahli seismologi mengingatkan bahwa pelepasan energi pada gempa berkekuatan magnitudo 6,8 di Kumamoto belum tentu menandakan berakhirnya aktivitas seismik di kawasan tersebut. Masih terdapat kemungkinan bahwa sebagian tegangan batuan belum sepenuhnya terlepaskan, khususnya pada segmen sesar di bagian selatan. Apabila akumulasi tegangan tersebut masih tersimpan, maka potensi terjadinya gempa susulan yang cukup kuat tetap ada. Karena itu, masyarakat dan otoritas setempat diimbau untuk tetap berada dalam tingkat kewaspadaan tinggi serta mengikuti seluruh arahan keselamatan dari pemerintah dan lembaga kebencanaan hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar Anda