dengarinfo.com - Portal Berita Akurat & Terpercaya

Prabowo: Indonesia Jadi Contoh Dunia, Umat Islam Tampilkan Wajah Damai dan Sejuk

Oleh: dengarinfo
07 February 2026
17 kali dibaca

Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia telah menjadi contoh bagi dunia dalam menghadirkan wajah Islam yang damai dan menyejukkan.

Dengarinfo - Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia telah menjadi contoh bagi dunia dalam menghadirkan wajah Islam yang damai dan menyejukkan. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri pengukuhan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2025–2030 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu.

Di hadapan para ulama, tokoh ormas Islam, dan pejabat negara yang memenuhi ruang utama Masjid Istiqlal, Prabowo menyampaikan bahwa umat Islam Indonesia telah menunjukkan teladan penting dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman. Ia menyebut Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia yang mampu memadukan nilai-nilai keislaman dengan semangat kebangsaan dan demokrasi.

Menurut Prabowo, di tengah situasi global yang masih dibayangi konflik, ketegangan geopolitik, serta polarisasi sosial berbasis identitas, Indonesia justru menampilkan wajah Islam yang penuh kesejukan. Ia menekankan bahwa umat Islam di Tanah Air tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk menyebarkan kebencian, melainkan sebagai ruang untuk memperkuat persaudaraan.

“Kita bersyukur, umat Islam Indonesia tampil sebagai kekuatan moral yang mengajarkan perdamaian. Kita tidak mengumbar kebencian, tidak memecah belah, tetapi mengedepankan persatuan dan keadilan,” ujar Prabowo dalam sambutannya.

Ia juga menyoroti peran ulama dalam perjalanan sejarah bangsa. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era modern, ulama dinilai memiliki kontribusi besar dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Prabowo menyebut, sinergi antara pemerintah dan ulama harus terus diperkuat demi memastikan pembangunan nasional berjalan seiring dengan nilai-nilai moral dan etika.

Dalam konteks demokrasi, Prabowo menilai perbedaan pilihan politik dan persaingan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem yang dianut Indonesia. Namun, ia mengingatkan bahwa kompetisi harus diakhiri dengan rekonsiliasi. Setelah perbedaan disuarakan, seluruh elemen bangsa perlu kembali dalam satu barisan untuk membangun negeri.

“Perbedaan itu wajar. Dalam demokrasi pasti ada persaingan. Tapi setelah itu, kita harus bersatu. Jangan ada lagi kecurigaan, jangan ada dendam. Yang ada adalah tekad bersama untuk menjaga keselamatan bangsa,” tegasnya.

Prabowo juga mengajak masyarakat untuk memperkuat semangat persatuan menjelang bulan Ramadan. Ia berharap momentum ibadah tersebut dapat menjadi ruang refleksi sekaligus penguat solidaritas sosial. Menurutnya, doa dan ikhtiar kolektif bangsa menjadi fondasi penting dalam menghadapi tantangan ekonomi global, perubahan iklim, hingga dinamika sosial yang terus berkembang.

Lebih jauh, Presiden menekankan bahwa stabilitas nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi dan militer, tetapi juga oleh ketahanan sosial dan spiritual masyarakatnya. Dalam hal ini, peran MUI dinilai strategis sebagai penjaga nilai, pemberi fatwa, sekaligus mitra pemerintah dalam memastikan kebijakan publik selaras dengan kepentingan umat.

Ia berharap kepengurusan MUI periode 2025–2030 mampu terus menjadi penuntun umat dalam menjaga moderasi beragama, memperkuat toleransi antarumat, serta menangkal paham ekstremisme yang berpotensi merusak persatuan.

Acara pengukuhan tersebut berlangsung khidmat, dihadiri sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju, pimpinan lembaga negara, serta tokoh lintas agama. Momentum ini dinilai sebagai simbol komitmen bersama antara pemerintah dan para pemuka agama dalam menjaga Indonesia sebagai bangsa yang rukun dalam keberagaman.

Dengan penegasan tersebut, Prabowo menempatkan Indonesia bukan hanya sebagai negara dengan jumlah Muslim terbesar, tetapi juga sebagai model peradaban Islam yang moderat, inklusif, dan berorientasi pada perdamaian global. Sebuah pesan yang menegaskan bahwa kekuatan bangsa ini bukan hanya pada angka dan sumber daya, melainkan pada kemampuannya merawat persatuan di tengah perbedaan.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar Anda