Dengarinfo-Rusia kembali meningkatkan eskalasi konflik dengan Ukraina setelah melancarkan serangan udara besar-besaran pada Kamis malam hingga Jumat dini hari, 29–30 Januari 2026. Dalam serangan tersebut, militer Rusia menembakkan sedikitnya 111 drone serang ke berbagai wilayah Ukraina, menandai salah satu gelombang serangan drone terbesar dalam beberapa pekan terakhir. Aksi ini terjadi di tengah cuaca musim dingin ekstrem yang melanda kawasan Eropa Timur dan saat wacana penghentian sementara serangan masih bergulir di level diplomatik.
Militer Ukraina menyebut sebagian besar drone berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, unit peperangan elektronik, serta kelompok tembak bergerak yang disiagakan di sejumlah kota. Meski demikian, sejumlah drone dilaporkan tetap lolos dan menghantam sasaran, menyebabkan kerusakan pada bangunan sipil dan infrastruktur penting. Ledakan terdengar di beberapa wilayah, sementara sirene peringatan udara meraung sepanjang malam di kota-kota besar, memaksa warga berlindung di tempat perlindungan saat suhu udara berada jauh di bawah titik beku.
Serangan ini dikaitkan dengan meningkatnya ketegangan politik antara Moskow dan Kyiv. Presiden Rusia, Vladimir Putin, dilaporkan memerintahkan respons militer yang lebih keras setelah Rusia menuduh Ukraina terus melakukan serangan balik dan sabotase terhadap wilayah yang dikuasai Moskow. Di sisi lain, pemerintah Ukraina menilai serangan tersebut sebagai upaya Rusia menekan secara militer sekaligus psikologis, terutama dengan menargetkan wilayah permukiman dan fasilitas energi di tengah musim dingin.
Dampak serangan terasa langsung bagi warga sipil. Beberapa daerah mengalami gangguan listrik dan pemanas, situasi yang sangat krusial di tengah suhu ekstrem. Otoritas setempat di Ukraina menyatakan tim darurat dikerahkan untuk memulihkan pasokan listrik dan memastikan fasilitas vital seperti rumah sakit tetap beroperasi. Laporan awal juga menyebut adanya korban luka, meski jumlah pastinya masih dalam pendataan.
Gelombang serangan ini terjadi ketika isu penghentian sementara serangan sempat mencuat dalam pernyataan pejabat internasional. Namun, realitas di lapangan menunjukkan belum ada gencatan senjata yang benar-benar berjalan. Serangan drone yang terus berlanjut mempertegas rapuhnya proses diplomasi dan memperlihatkan bahwa konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina masih berada pada fase konfrontasi terbuka.
Hingga Jumat pagi, aparat keamanan Ukraina tetap berada dalam status siaga tinggi, mengantisipasi kemungkinan serangan lanjutan. Pemerintah Ukraina kembali menyerukan dukungan internasional, khususnya dalam penguatan pertahanan udara dan bantuan kemanusiaan untuk menghadapi dampak musim dingin dan serangan berulang. Sementara itu, komunitas internasional terus menyoroti eskalasi terbaru ini sebagai ancaman serius terhadap stabilitas kawasan dan keselamatan warga sipil, di saat harapan akan meredanya perang kembali tertutup oleh dentuman ledakan di langit Ukraina.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar Anda