dengarinfo.com - Portal Berita Akurat & Terpercaya

Serangan gabungan Amerika Serikat dan Arab Saudi terhadap milisi pro-Iran di Irak tewaskan sedikitnya 20 orang

Oleh: erick
30 July 2026
12 kali dibaca

Sedikitnya 20 anggota milisi pro-Iran dilaporkan tewas dalam serangan gabungan yang dilakukan Amerika Serikat dan Arab Saudi di wilayah Irak pada Rabu, 29 Juli 2026.

Dengarinfo - Sedikitnya 20 anggota milisi pro-Iran dilaporkan tewas dalam serangan gabungan yang dilakukan Amerika Serikat dan Arab Saudi di wilayah Irak pada Rabu, 29 Juli 2026. Serangan tersebut menandai eskalasi terbaru dalam ketegangan yang berkembang di kawasan Timur Tengah setelah meningkatnya rangkaian serangan terhadap pasukan Amerika Serikat dan fasilitas energi Arab Saudi yang disebut berasal dari kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran. Pemerintah Amerika Serikat dan Arab Saudi menyatakan operasi militer tersebut ditujukan untuk menghentikan ancaman yang dinilai berasal dari kelompok milisi yang beroperasi di Irak.

Sasaran serangan dilaporkan berada di sejumlah fasilitas logistik, gudang persenjataan, dan lokasi yang diduga digunakan oleh kelompok milisi pro-Iran di wilayah Irak bagian timur. Operasi dilakukan setelah kedua negara menilai telah terjadi peningkatan serangan pesawat nirawak yang menargetkan pasukan Amerika Serikat serta infrastruktur energi Arab Saudi dalam beberapa waktu terakhir. Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari langkah militer untuk mengurangi kemampuan operasional kelompok-kelompok bersenjata yang didukung Iran di kawasan tersebut.

Berdasarkan laporan yang berkembang, sedikitnya 20 anggota bekas aliansi paramiliter yang mencakup berbagai kelompok milisi pro-Iran dilaporkan meninggal dunia akibat serangan tersebut. Selain korban jiwa, sejumlah orang lainnya juga mengalami luka-luka, sementara beberapa fasilitas yang menjadi sasaran dilaporkan mengalami kerusakan cukup berat. Hingga saat ini belum terdapat informasi resmi mengenai jumlah pasti korban luka maupun besarnya kerusakan yang ditimbulkan di lokasi serangan.

Pemerintah Amerika Serikat dan Arab Saudi menyatakan bahwa operasi militer dilakukan sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman keamanan di kawasan. Kedua negara menilai serangan drone yang sebelumnya diarahkan ke pangkalan militer Amerika Serikat dan fasilitas minyak Arab Saudi memerlukan tindakan balasan untuk mencegah serangan lanjutan. Langkah tersebut sekaligus menunjukkan semakin eratnya koordinasi kedua negara dalam menghadapi ancaman yang berasal dari kelompok bersenjata yang didukung Iran.

Di sisi lain, Presiden Irak mengecam operasi militer tersebut dan menyebut tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya. Pemerintah Irak menyatakan bahwa setiap operasi militer di wilayahnya seharusnya dilakukan dengan menghormati hukum internasional serta kedaulatan negara. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Arab Saudi, dan Iran dapat semakin meluas ke wilayah Irak.

Ketegangan di kawasan Timur Tengah sendiri terus meningkat sejak terjadinya rangkaian konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada awal tahun 2026. Sejumlah kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran di Irak, Suriah, Lebanon, dan wilayah lain disebut semakin aktif melancarkan serangan terhadap kepentingan negara-negara yang menjadi sekutu Amerika Serikat. Kondisi tersebut mendorong peningkatan operasi militer balasan yang melibatkan berbagai negara di kawasan.

Perkembangan situasi keamanan di Irak menjadi perhatian masyarakat internasional karena negara tersebut masih menghadapi tantangan dalam menjaga stabilitas di tengah keberadaan berbagai kelompok bersenjata yang memiliki afiliasi berbeda. Pemerintah Irak selama ini berupaya menyeimbangkan hubungan diplomatik dengan berbagai negara sekaligus menjaga keamanan dalam negeri agar tidak semakin terdampak oleh konflik regional yang terus berkembang. Namun meningkatnya operasi militer lintas negara menunjukkan bahwa dinamika keamanan di kawasan masih sangat kompleks.

Konflik yang semakin meluas juga memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, termasuk potensi gangguan terhadap jalur perdagangan internasional dan pasokan energi global. Sejumlah negara terus memantau perkembangan situasi sambil mendorong penyelesaian melalui jalur diplomatik untuk mencegah eskalasi yang lebih besar. Hingga saat ini, otoritas terkait masih melakukan pendataan terhadap dampak serangan di Irak, sementara perkembangan lebih lanjut mengenai kondisi di lapangan masih terus dipantau.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar Anda