dengarinfo.com - Portal Berita Akurat & Terpercaya

Susu “Sehat” yang Berubah Jadi Ancaman: Distribusi SPPG Limbong, Toraja Utara Dipertanyakan

Oleh: Anwar
28 March 2026
84 kali dibaca

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang sebagai benteng perlindungan gizi anak-anak justru memperlihatkan retakan serius di lapangan. Di Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, distribusi susu melalui Dapur SPPG Limbong memicu kekhawatiran publik setelah ditemukan produk dalam kondisi tidak layak konsumsi.

DengarInfo — Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian publik setelah muncul laporan masyarakat terkait distribusi susu kepada siswa di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Temuan ini mendorong perlunya penelusuran serta evaluasi terhadap sistem distribusi dan pengawasan mutu program.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, sejumlah siswa di wilayah Rantepao menerima susu kemasan yang disalurkan melalui Dapur SPPG Limbong dengan kondisi yang tidak normal. Beberapa laporan mengindikasikan adanya perubahan tekstur dan aroma, meskipun secara administratif produk tersebut masih berada dalam masa berlaku hingga akhir Maret 2026.

Kondisi tersebut umumnya baru diketahui setelah susu dibawa pulang oleh siswa. Sejumlah orang tua kemudian mendokumentasikan temuan tersebut sebagai bentuk kehati-hatian dan menyampaikannya kepada pihak terkait untuk ditindaklanjuti.

Dalam upaya memperoleh klarifikasi, Redaksi DengarInfo telah menghubungi pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program di daerah. Penanggung jawab yayasan mitra MBG, Dylan Parura, dari Yayasan To'tombi Lolai, menyarankan agar konfirmasi lebih lanjut diarahkan kepada pengelola dapur pelaksana. Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Kepala Dapur SPPG Limbong, Ade Palino, belum memberikan tanggapan resmi.

Pengamat kebijakan pangan menyebut bahwa situasi ini perlu dilihat secara objektif dan berbasis verifikasi menyeluruh. Menurutnya, dalam distribusi pangan berskala besar, kualitas produk sangat dipengaruhi oleh konsistensi rantai logistik, terutama untuk komoditas sensitif seperti susu.

"Produk susu memiliki sensitivitas tinggi terhadap suhu dan waktu distribusi. Jika salah satu tahapan tidak terjaga, kualitas dapat menurun meskipun secara administratif masih dalam masa berlaku," ujarnya.

Dalam praktiknya, pengawasan mutu pada distribusi skala besar umumnya dilakukan melalui metode sampling. Namun pendekatan ini memiliki keterbatasan dalam menjangkau seluruh produk yang beredar, sehingga menjadi salah satu aspek yang dinilai perlu diperkuat.

Selain itu, pentingnya mekanisme respons cepat—termasuk prosedur penarikan atau penggantian produk—dinilai krusial untuk meminimalkan potensi risiko serta menjaga kepercayaan publik.

Di sisi lain, muncul pertanyaan dari masyarakat terkait peran tenaga ahli gizi dalam proses pengawasan. Perlu ditelusuri apakah pengendalian mutu telah dilakukan secara menyeluruh sebelum distribusi, atau terdapat keterbatasan dalam sistem yang berjalan.

Pemerhati kebijakan publik menekankan bahwa temuan di satu wilayah tidak serta-merta mencerminkan keseluruhan pelaksanaan program MBG secara nasional. Namun demikian, setiap laporan tetap penting untuk ditindaklanjuti sebagai bagian dari perbaikan berkelanjutan.

"Program MBG merupakan salah satu inisiatif strategis dalam mendukung pemenuhan gizi anak-anak. Karena itu, konsistensi standar keamanan pangan, pengawasan yang memadai, serta koordinasi antarpihak menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas implementasi di lapangan," ujar salah satu pemerhati kebijakan publik.

Pihak DengarInfo menyatakan masih menunggu klarifikasi dari Direktur Pemantauan dan Pengawasan Wilayah III Badan Gizi Nasional (BGN), Rudi Setiawan; Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Wilayah Sulawesi Selatan, Handayani Syaukani; serta Koordinator Wilayah BGN Toraja Utara, Juwita Cantika Sari, guna memperoleh penjelasan yang lebih komprehensif terkait mekanisme pengawasan dan distribusi program.

Ke depan, diharapkan klarifikasi dari para pihak terkait dapat memberikan gambaran utuh kepada publik sekaligus menjadi dasar penguatan sistem distribusi agar kualitas pangan yang diterima siswa tetap terjaga.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar Anda