DengarInfo - Pemerintahan Presiden Donald Trump mendorong sekolah-sekolah di Amerika Serikat memperbanyak makanan yang dimasak dari bahan segar dan mengurangi makanan ultra-proses. Namun, upaya tersebut menghadapi kendala fasilitas dapur, keterbatasan tenaga kerja, pelatihan, hingga anggaran.
Kondisi itu terlihat di Thomas Hooker Elementary School, Meriden, Connecticut. Sekolah tersebut melayani sekitar 300 siswa dengan fasilitas dapur yang terbatas. Tiga pekerja kafetaria harus menyiapkan makanan untuk ratusan siswa dalam ruang kerja yang tidak dirancang sebagai dapur modern.
Sekolah yang dibangun pada 1960-an itu awalnya tidak memiliki dapur untuk makan siang. Pada masa tersebut, banyak siswa pulang ke rumah saat jam makan siang. Kini, Meriden Public Schools memanfaatkan tiga ruang kecil untuk kegiatan pengolahan makanan.
Kondisi fasilitas tersebut membuat pengelola sekolah kesulitan meningkatkan porsi makanan yang dimasak dari awal. Meja kerja pengelola kafetaria berada hanya beberapa meter dari area pencucian peralatan. Sementara itu, kompor, lemari pendingin dan peralatan lainnya berada di ruangan berbeda.
Direktur Food and Nutrition Services Meriden Public Schools, Susan Maffe, mengatakan kondisi tersebut menyulitkan pihaknya jika harus meningkatkan produksi makanan segar secara signifikan.
Dorongan untuk mengubah pola makan sekolah merupakan bagian dari agenda Make America Healthy Again yang didorong pemerintahan Trump. Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat Robert F. Kennedy Jr. menyerukan peningkatan kegiatan memasak dari awal, pengurangan gula tambahan dan makanan ultra-proses, serta peningkatan penyajian produk segar, biji-bijian utuh dan protein berkualitas.
Pemerintah AS kemudian menyiapkan dukungan untuk membantu sekolah meningkatkan fasilitas pengolahan makanan. USDA mengalokasikan dana hibah peralatan untuk sekolah, sedangkan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan atau HHS menyiapkan pendanaan untuk mencari cara yang lebih hemat biaya dalam menyediakan makanan sekolah yang lebih sehat.
Namun, pengelola layanan makanan sekolah menilai kebutuhan mereka jauh lebih besar. Survei School Nutrition Association terhadap pengelola program makanan sekolah menunjukkan 99 persen responden membutuhkan tambahan pendanaan. Sebanyak 94 persen menyebut kebutuhan tambahan tenaga kerja, 95 persen membutuhkan pelatihan kuliner, dan 94 persen membutuhkan peralatan serta infrastruktur tambahan.
Survei yang sama menunjukkan 71 persen program makanan sekolah yang disurvei sudah menawarkan makanan yang dimasak dari awal setidaknya sekali dalam sepekan. Namun, peningkatan kegiatan memasak dari bahan mentah tetap menghadapi persoalan biaya makanan, tenaga kerja dan peralatan.
Di Meriden, persoalan biaya menjadi tantangan tersendiri. Pengelola layanan makanan distrik menghabiskan lebih dari US$300.000 untuk pembelian dan perbaikan peralatan pada tahun sebelumnya. Sementara itu, biaya penyediaan makan siang mencapai sekitar US$5,07 per porsi, sedangkan penggantian dana federal berada di kisaran US$4,80 per porsi. Selisih tersebut ikut menekan anggaran program makanan sekolah.
Masalah tenaga kerja juga membuat perubahan menu tidak mudah. Sekolah membutuhkan pekerja yang mampu menangani bahan mentah, mengikuti resep dan standar gizi, serta menggunakan peralatan dapur dengan aman. Pada saat yang sama, kafetaria sekolah harus bersaing dengan sektor ritel dan pergudangan yang dapat menawarkan pekerjaan dengan penghasilan lebih tinggi.
Meski demikian, sejumlah distrik sekolah mulai mengembangkan sistem untuk memperbanyak makanan yang dimasak dari awal. Salah satunya melalui dapur produksi terpusat yang memasok makanan ke sejumlah sekolah. Model tersebut memungkinkan proses memasak dilakukan secara terpusat sebelum makanan diselesaikan atau disajikan di sekolah.
Perubahan tersebut juga menghadapi tantangan lain, yakni selera siswa. Anak-anak yang terbiasa dengan makanan olahan perlu beradaptasi dengan menu yang menggunakan lebih banyak bahan segar dan makanan yang dimasak dari awal.
Karena itu, dorongan pemerintahan Trump untuk mengubah makanan sekolah di AS tidak hanya membutuhkan perubahan menu. Sekolah juga memerlukan dapur yang memadai, peralatan, tenaga kerja terlatih, waktu untuk mengembangkan resep, serta pendanaan yang cukup.
School Nutrition Association menilai perubahan standar makanan sekolah harus disertai dukungan yang realistis bagi sekolah. Organisasi tersebut menyebut lebih dari 93 persen pengelola program makanan sekolah membutuhkan tambahan staf, pelatihan kuliner, peralatan dan infrastruktur untuk mengurangi ketergantungan pada makanan ultra-proses.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar Anda