dengarinfo.com - Portal Berita Akurat & Terpercaya

Demo Tolak Kedatangan Jokowi di Makassar Memanas, Mahasiswa Tegaskan Sulsel Bukan “Kandang Gajah”

Oleh: dengarinfo
31 January 2026
32 kali dibaca

Aksi demonstrasi menolak rencana kedatangan Joko Widodo di Kota Makassar berlangsung memanas, Kamis (29/1).

Dengarinfo — Aksi demonstrasi menolak rencana kedatangan Joko Widodo di Kota Makassar berlangsung memanas, Kamis (29/1). Puluhan mahasiswa dari berbagai organisasi dan aliansi pergerakan turun ke jalan menyuarakan penolakan terhadap agenda politik nasional yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat Sulawesi Selatan.

Aksi unjuk rasa digelar di sekitar lokasi Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang berlangsung di salah satu hotel di Jalan AP Pettarani, Makassar. Massa membawa spanduk, poster, serta menggunakan mobil komando untuk menyampaikan orasi secara bergantian.

Dalam orasinya, mahasiswa menyatakan penolakan terhadap kehadiran Jokowi yang dijadwalkan menghadiri agenda Rakernas PSI. Mereka menilai kedatangan tersebut bukan sekadar kunjungan biasa, melainkan sarat dengan kepentingan politik dan simbolik, tanpa disertai pertanggungjawaban atas berbagai kebijakan nasional yang dinilai meninggalkan banyak persoalan.

“Sulawesi Selatan bukan kandang gajah. Kami menolak daerah ini dijadikan panggung politik elite, sementara persoalan rakyat dibiarkan berlarut-larut,” teriak salah satu orator dari atas mobil komando, disambut yel-yel dan sorakan massa aksi.

Mahasiswa menilai selama dua periode pemerintahan Jokowi, berbagai kebijakan strategis justru berdampak pada kerusakan lingkungan, konflik agraria, serta meningkatnya kesenjangan sosial. Isu eksploitasi sumber daya alam, pembukaan kawasan hutan, hingga lemahnya perlindungan terhadap masyarakat adat di Sulawesi Selatan menjadi sorotan utama dalam aksi tersebut.

Selain menolak kedatangan Jokowi, massa juga menyuarakan tuntutan agar Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dicopot dari jabatannya. Mereka menuding kementerian terkait gagal menjalankan fungsi pengawasan dan perlindungan hutan, khususnya di wilayah Indonesia Timur. Spanduk bertuliskan kritik terhadap kebijakan kehutanan dan lingkungan tampak dibentangkan di tengah aksi.

Aksi demonstrasi sempat memanas ketika massa membakar ban bekas di tengah jalan dan menutup sebagian badan jalan AP Pettarani. Akibatnya, arus lalu lintas di sekitar lokasi aksi mengalami kemacetan cukup panjang. Sejumlah pengendara terpaksa memutar arah atau memperlambat laju kendaraan.

Aparat kepolisian dari Polda Sulawesi Selatan dan Polrestabes Makassar tampak berjaga di sejumlah titik strategis. Polisi membentuk barikade untuk memisahkan massa aksi dengan area lokasi Rakernas PSI serta mengantisipasi kemungkinan bentrokan. Hingga aksi berlangsung, aparat terlihat melakukan pendekatan persuasif untuk menjaga situasi tetap kondusif.

Koordinator aksi dalam keterangannya menyebutkan bahwa demonstrasi tersebut merupakan bentuk kekecewaan dan perlawanan moral mahasiswa terhadap arah kebijakan negara. Menurutnya, kunjungan pejabat tinggi negara ke daerah seharusnya membawa solusi konkret, bukan sekadar agenda seremonial dan konsolidasi politik.

“Kami tidak menolak siapa pun datang ke Sulawesi Selatan, tetapi kami menolak kehadiran yang tidak membawa keadilan, tidak membawa penyelesaian, dan justru melanggengkan masalah,” ujarnya.

Mahasiswa juga menyatakan bahwa aksi ini bukan yang terakhir. Mereka mengancam akan menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa yang lebih besar apabila tuntutan mereka tidak mendapat respons dari pemerintah pusat maupun kementerian terkait.

Hingga sore hari, aksi demonstrasi berangsur mereda. Massa membubarkan diri secara tertib di bawah pengawalan aparat keamanan. Tidak ada laporan resmi mengenai korban luka maupun penangkapan selama aksi berlangsung, meski situasi sempat diwarnai ketegangan.

Aksi tersebut menjadi penanda kuat meningkatnya resistensi sebagian kalangan mahasiswa terhadap agenda politik nasional di daerah, sekaligus memperlihatkan bahwa dinamika kritik terhadap pemerintah masih terus hidup di ruang publik Sulawesi Selatan.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar Anda