Dengarinfo - Upaya hilirisasi nikel di Indonesia dinilai tidak boleh berhenti pada produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) maupun nikel sulfat. Indonesia didorong untuk melangkah lebih jauh dengan menguasai teknologi dan industri manufaktur material baterai agar mampu memperoleh nilai tambah yang jauh lebih besar dari kekayaan sumber daya nikel yang dimiliki. Pandangan tersebut disampaikan Peneliti baterai nasional sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Prof. Evvy Kartini, dalam kegiatan Training to Miners (TTM) Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Seri Ke-8 yang berlangsung di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.
Menurut Prof. Evvy, visi hilirisasi yang selama ini menjadi kebijakan pemerintah harus diterjemahkan ke dalam penguasaan teknologi manufaktur baterai oleh sumber daya manusia Indonesia. Ia menilai Indonesia tidak cukup hanya menjadi pemasok bahan baku atau produk antara bagi industri global, tetapi harus mampu menghasilkan material baterai hingga produk akhir agar manfaat ekonomi yang diperoleh dapat dinikmati di dalam negeri.
Ia menjelaskan bahwa setiap tahapan dalam rantai nilai industri baterai memiliki peningkatan nilai ekonomi yang sangat signifikan. Berdasarkan pemaparannya, pengolahan nikel menjadi material baterai dapat meningkatkan nilai tambah hingga sekitar 55 kali lipat dibandingkan bahan baku. Jika diolah lebih lanjut menjadi baterai, nilai tambahnya diperkirakan meningkat hingga sekitar 150 kali lipat, sedangkan apabila digunakan sebagai komponen utama kendaraan listrik, nilai ekonominya dapat mencapai sekitar 350 kali lipat. Namun, menurutnya, sebagian besar nilai tambah tersebut saat ini masih dinikmati negara lain yang telah menguasai teknologi manufaktur baterai dan kendaraan listrik.
Prof. Evvy menilai kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi Indonesia sebagai negara dengan salah satu cadangan nikel terbesar di dunia. Meskipun memiliki keunggulan dari sisi sumber daya alam, Indonesia dinilai masih perlu memperkuat kemampuan teknologi, riset, inovasi, dan industri manufaktur agar dapat menguasai rantai pasok baterai secara menyeluruh. Dengan demikian, hilirisasi tidak hanya menghasilkan produk setengah jadi, tetapi juga mampu menciptakan industri bernilai tambah tinggi yang berkelanjutan.
Dalam paparannya, Prof. Evvy juga mengungkapkan bahwa tim peneliti yang dipimpinnya telah berhasil membuktikan kemampuan Indonesia memproduksi material katoda baterai berbasis nickel manganese cobalt (NMC) menggunakan bahan baku lokal. Proses tersebut dimulai dari pembuatan prekursor, dilanjutkan dengan proses pengeringan dan pemanasan hingga menghasilkan material katoda baterai yang kemudian diuji menjadi sel baterai. Hasil pengujian menunjukkan bahwa baterai yang diproduksi dari material lokal memiliki performa yang baik, termasuk dalam pengujian hingga 100 siklus pengisian daya (charging cycle) serta kemampuan fast charging. Temuan tersebut dinilai menjadi bukti bahwa penguasaan teknologi manufaktur baterai dapat dikembangkan oleh peneliti Indonesia.
Selain itu, ia menyoroti prospek ekonomi sirkular baterai berbasis NMC yang dinilai lebih menjanjikan dibandingkan baterai berbasis lithium iron phosphate (LFP). Menurutnya, kandungan nikel, mangan, dan kobalt pada baterai NMC memiliki nilai ekonomi karena dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri. Oleh sebab itu, nikel Indonesia dipandang memiliki nilai strategis yang tinggi apabila diolah hingga menjadi material baterai, bukan sekadar diekspor dalam bentuk produk antara.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang terus mendorong pengembangan hilirisasi mineral sebagai bagian dari pembangunan industri nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah membangun berbagai fasilitas pengolahan nikel, termasuk smelter berbasis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF), fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL), serta industri pengolahan nikel lainnya. Tahapan berikutnya yang dinilai penting adalah memperluas hilirisasi menuju produksi prekursor, material katoda, sel baterai, paket baterai (battery pack), hingga produk akhir seperti kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.
Berbagai kalangan menilai pengembangan industri baterai nasional akan memberikan dampak ekonomi yang lebih luas dibandingkan hanya memproduksi bahan baku atau produk setengah jadi. Selain meningkatkan nilai tambah komoditas nikel, penguasaan teknologi manufaktur juga berpotensi memperkuat daya saing industri nasional, menciptakan lapangan kerja berkeahlian tinggi, memperluas kegiatan penelitian dan pengembangan, serta memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok kendaraan listrik global. Namun, pengembangan tersebut juga memerlukan investasi berkelanjutan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan riset, serta sinergi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan lembaga penelitian.
Dengan besarnya cadangan nikel yang dimiliki Indonesia, hilirisasi dinilai memiliki peluang strategis untuk mendorong transformasi ekonomi nasional. Sejumlah pihak berpandangan bahwa keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari jumlah smelter atau volume produksi MHP dan nikel sulfat, melainkan juga dari kemampuan Indonesia menghasilkan produk bernilai tambah tinggi melalui penguasaan teknologi manufaktur material baterai, baterai kendaraan listrik, hingga produk akhir yang mampu bersaing di pasar global.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!
Tulis Komentar Anda