dengarinfo.com - Portal Berita Akurat & Terpercaya

unismuh makassar dorong kolaborasi perguruan tinggi untuk hadapi persaingan global

Oleh: riska
10 August 2026
37 kali dibaca

Universitas Muhammadiyah Makassar mendorong penguatan kolaborasi antarperguruan tinggi sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan persaingan pendidikan tinggi di tingkat global.

Dengarinfo - Universitas Muhammadiyah Makassar mendorong penguatan kolaborasi antarperguruan tinggi sebagai bagian dari upaya menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan persaingan pendidikan tinggi di tingkat global.

Hal tersebut mengemuka dalam Kuliah Tamu Internasional bertema “Transformasi Pendidikan Tinggi dan Perubahan Sosial: Dari Kompetisi Menuju Koopetisi” yang digelar di Aula Teater I-GIFt, Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, Senin, 10 Agustus 2026.

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Program Studi S1 Pendidikan Sosiologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dengan Program Studi S2 Pendidikan Sosiologi Pascasarjana. Kuliah tamu menghadirkan Prof Madya Dr Haji Zainudin bin Haji Hassan dari Universiti Teknologi Malaysia sebagai pembicara dan dipandu Dr Hadisaputra, dosen Pendidikan Sosiologi.

Kegiatan dibuka Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Makassar Prof Andi Sukri Syamsuri. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pentingnya mengembangkan hubungan akademik dengan perguruan tinggi luar negeri ke dalam bentuk kerja sama yang lebih konkret.

Kerja sama tersebut mencakup pembelajaran lintas perguruan tinggi, mobilitas mahasiswa, serta penguatan jejaring dosen.

Dalam pemaparannya, Zainudin menjelaskan bahwa perguruan tinggi menghadapi perubahan sosial dan teknologi yang berlangsung cepat. Globalisasi dan digitalisasi memperluas persaingan antaruniversitas, sementara perkembangan kecerdasan buatan, perubahan kebutuhan pasar kerja, mobilitas sosial, serta karakter generasi baru turut memengaruhi pendidikan tinggi.

Menurut Zainudin, kompetisi tetap diperlukan untuk mendorong peningkatan mutu perguruan tinggi. Namun, persaingan tidak harus membuat setiap institusi berjalan sendiri.

Ia memperkenalkan konsep koopetisi, yaitu gabungan antara cooperation dan competition. Melalui konsep tersebut, perguruan tinggi tetap bersaing dalam mutu akademik, penelitian, inovasi, dan reputasi, tetapi juga membangun kerja sama pada bidang-bidang tertentu yang dapat memberikan manfaat bagi kedua institusi.

Zainudin menyebut kerja sama dapat membuka akses terhadap pengetahuan, penelitian, fasilitas, serta jaringan akademik internasional. Hubungan dengan perguruan tinggi yang memiliki pengalaman atau reputasi lebih kuat juga dapat dimanfaatkan untuk memperluas kesempatan belajar dan meningkatkan kapasitas institusi.

Dalam konteks kerja sama antara Universitas Muhammadiyah Makassar dan Universiti Teknologi Malaysia, sejumlah bentuk kolaborasi yang dapat dikembangkan antara lain riset bersama, supervisi bersama, penggunaan fasilitas dan laboratorium, pertukaran dosen dan mahasiswa, pengembangan kurikulum, pelatihan dosen dan peneliti, serta publikasi bersama.

Zainudin juga menekankan bahwa kerja sama internasional perlu menghasilkan kegiatan yang memberikan dampak bagi kedua institusi. Pertukaran dosen dan mahasiswa, menurutnya, tidak cukup hanya dilakukan dalam bentuk kunjungan singkat, tetapi perlu menghasilkan pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas, penelitian, dan manfaat akademik.

Ia menyebut kolaborasi sebagai bagian penting bagi institusi pendidikan yang ingin berkembang di tengah perubahan pendidikan tinggi global.

Selain kerja sama antaruniversitas, Zainudin juga menyoroti kebutuhan untuk melakukan pembaruan kurikulum. Menurutnya, perguruan tinggi perlu mengevaluasi mata kuliah dan materi pembelajaran secara berkala agar tetap sesuai dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Perkembangan kecerdasan buatan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam pembaruan tersebut. AI dinilai dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses pendidikan, tetapi tidak menggantikan kemampuan berpikir manusia.

Perubahan demografi, urbanisasi, mobilitas sosial, tuntutan pasar kerja, inklusivitas, dan kebutuhan generasi baru juga disebut sebagai faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan pendidikan tinggi.

Dosen tidak hanya dituntut menjalankan kegiatan pengajaran, tetapi juga melakukan penelitian dan penulisan. Mahasiswa juga ditempatkan sebagai bagian dari proses perubahan sosial melalui pendidikan dan kegiatan akademik.

Dalam kesempatan yang sama, Prof Andi Sukri Syamsuri mendorong agar kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri diterjemahkan ke dalam program akademik yang lebih konkret.

Salah satu kemungkinan yang dibahas adalah melibatkan Zainudin dalam kegiatan akademik Pendidikan Sosiologi, termasuk kemungkinan sebagai profesor adjung dan keterlibatan dalam kegiatan perkuliahan.

Pemanfaatan pembelajaran daring juga dinilai dapat membuka peluang bagi dosen dari perguruan tinggi luar negeri untuk terlibat dalam proses pembelajaran tanpa seluruh kegiatan harus dilakukan melalui mobilitas fisik.

Model pembelajaran tersebut dapat dikombinasikan dengan kunjungan akademik dalam waktu tertentu. Mahasiswa dapat mengikuti kegiatan perkuliahan di perguruan tinggi mitra selama beberapa waktu kemudian melanjutkan pembelajaran secara daring dari Indonesia.

Selain itu, kemungkinan pengembangan program double degree juga menjadi salah satu gagasan yang dibahas dalam kegiatan tersebut.

Malaysia menjadi salah satu pilihan yang dinilai dapat dikembangkan karena kedekatan geografis serta hubungan akademik yang telah terbangun.

Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Makassar Prof Erwin Akib mengatakan pengalaman perguruan tinggi di Malaysia dapat menjadi bahan pembelajaran bagi pengembangan institusi di Indonesia, meskipun kondisi dan sumber daya masing-masing perguruan tinggi berbeda.

Menurut Erwin, perguruan tinggi membutuhkan penguatan budaya riset dan budaya mutu. Kolaborasi dapat digunakan untuk memperluas kegiatan penelitian dan penulisan bersama.

Ia juga menyampaikan bahwa proses transformasi institusi membutuhkan waktu. Perbedaan sumber daya antara perguruan tinggi di Indonesia dan Malaysia membuat pengalaman kedua negara tidak dapat diterapkan secara langsung, tetapi praktik yang sesuai dapat dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi institusi.

Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar Dr Baharullah juga menyoroti hubungan antara kompetisi dan kolaborasi dalam menghadapi globalisasi.

Kompetisi tetap diperlukan untuk meningkatkan kualitas, sementara kolaborasi dapat digunakan untuk memperkuat kapasitas perguruan tinggi. Kerja sama tersebut kemudian diarahkan agar menghasilkan dampak yang dapat dirasakan dalam bidang pendidikan dan masyarakat.

Kuliah tamu internasional tersebut menjadi bagian dari pengembangan kerja sama akademik dan pembahasan mengenai transformasi pendidikan tinggi di tengah perubahan teknologi dan persaingan global.

Sejumlah bentuk kerja sama yang dibahas mencakup penelitian bersama, pengembangan kurikulum, pertukaran mahasiswa dan dosen, publikasi ilmiah, penggunaan fasilitas akademik bersama, pelatihan peneliti, pembelajaran lintas perguruan tinggi, serta kemungkinan pengembangan program double degree.

Melalui konsep koopetisi, perguruan tinggi tetap menjalankan persaingan dalam bidang akademik dan inovasi, sekaligus membangun kerja sama untuk memperluas akses terhadap pengetahuan, sumber daya, dan jejaring internasional.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar Anda