dengarinfo.com - Portal Berita Akurat & Terpercaya

Trump Unggah Video Konspirasi Gambarkan Obama sebagai Monyet, Trump Tolak Minta Maaf

Oleh: dengarinfo
08 February 2026
42 kali dibaca

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuai kontroversi setelah membagikan sebuah video di platform media sosial miliknya, Truth Social, yang memuat konten konspirasi terkait Pemilu 2020 dan pada bagian akhirnya menampilkan mantan Presiden Barack Obama serta Michelle Obama digambarkan sebagai monyet.

DengarInfo - Pada awal Februari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi pusat kontroversi baru setelah membagikan sebuah video di akun media sosialnya, Truth Social, yang menampilkan mantan Presiden Barack Obama dan mantan Ibu Negara Michelle Obama secara singkat digambarkan sebagai monyet atau primata di akhir klip tersebut. Video berdurasi sekitar satu menit itu juga memuat bagian yang mempromosikan teori konspirasi tentang klaim penipuan dalam Pemilu 2020, namun dalam beberapa detik terakhir memasukkan adegan wajah keluarga Obama disuperimpose di tubuh binatang di hutan.

Unggahan tersebut langsung memicu reaksi keras dari berbagai kalangan usia dan spektrum politik di AS, membuat video itu dihapus sekitar 12 jam kemudian oleh tim Gedung Putih. Awalnya, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt membela konten itu sebagai sekadar meme internet yang menggambarkan Trump sebagai “Raja Hutan” dan Demokrat sebagai karakter yang aneh, namun tidak lama kemudian pihaknya mengklaim unggahan itu adalah kesalahan staf yang memiliki akses ke akun Trump.

Ketika ditanya di dalam pesawat kepresidenan Air Force One tentang unggahan itu dan apakah dirinya akan meminta maaf, Trump menolak keras untuk meminta maaf. Ia mengaku hanya melihat bagian awal video sebelum diunggah, menyebutnya sebagai konten kuat terkait klaim penipuan pemilu yang menurutnya “tidak bermasalah”, dan berkata bahwa dirinya “tidak membuat kesalahan” meskipun mengakui bahwa bagian akhirnya “orang tidak menyukainya.” Trump juga mengklaim bahwa dirinya adalah “presiden yang paling tidak rasis” dalam waktu yang lama.

Trump tetap pada posisinya meskipun kritik membanjir dari berbagai arah. Senator Tim Scott, satu-satunya senator kulit hitam dari Partai Republik, menyebut unggahan itu sebagai “hal paling rasis yang pernah saya lihat dari Gedung Putih,” dan menyerukan Trump untuk menarik dan menghapusnya. Beberapa senator Republik lain seperti Roger Wicker juga menyebut postingan itu “sama sekali tidak dapat diterima” serta menginginkan permintaan maaf resmi.

Dari kubu Demokrat, kritik lebih keras lagi. Pemimpin minoritas DPR Hakeem Jeffries dan tokoh-tokoh lain mengecam Trump atas unggahan itu sebagai tindakan yang merendahkan dan ofensif, terutama karena menggambarkan orang kulit hitam dengan simbol-simbol dehumanisasi historis yang telah lama dikritik dalam budaya Amerika Serikat. Beberapa kelompok hak-hak sipil, termasuk NAACP, juga mengecam video itu sebagai “jelas rasis dan menjijikkan,” sambil menunjuk pada sejarah panjang stereotip rasis dalam budaya populer yang menggunakan asosiasi tersebut.

Reaksi publik umum pun tidak kalah kuat. Di komunitas-komunitas dan kegiatan perayaan Black History Month, banyak warga menyatakan bahwa postingan itu memperkuat rasa sakit sejarah dan merendahkan martabat warga kulit hitam. Beberapa tokoh masyarakat sipil juga menegaskan bahwa peristiwa seperti ini menggarisbawahi perlunya standar yang lebih tinggi dalam komunikasi pejabat publik, terutama ketika menyangkut konten sensitif secara rasial.

Kontroversi ini terjadi di tengah perdebatan lebih luas tentang penggunaan media sosial oleh pejabat pemerintahan, tanggung jawab terhadap konten yang dibagikan, dan batas-batas kebebasan berekspresi dalam komunikasi politik. Bagi banyak pengamat, insiden ini memperkabutkan lagi perdebatan tentang norma etika sosial media di era digital dan bagaimana figur publik harus bertanggung jawab atas simbol-simbol yang mereka sebarkan.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!

Tulis Komentar Anda